Aksi Mogok Makan Menentang Kenaikan BBM

TEMPO Interaktif, Bandung: Empat belas aktivis dari berbagai elemen mahasiswa di Bandung mulai Rabu (9/3)
menggelar aksi mogok makan. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah
menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak yang berlaku sejak tanggal 1 Maret lalu.

Aksi yang dilakukan di depan pintu gerbang Gedung Sate
Jalan Diponegoro itu dimulai sekitar pukul 11.30 WIB. Para
aktivis memasang satu tenda tertutup dan satu tenda
terbuka untuk dijadikan tempat bernaung menahan panas
matahari.

Keempat belas mahasiswa itu berasal dari 7 elemen
mahasiswa dan masyarakat di Bandung. Mereka adalah
Harry, Ruli, dan Firman (Gerakan Mahasiswa Nasional
Indonesia), Robert (Gerakan Mahasiswa Kristen
Indonesia), Mako, Opik, Rudi, dan Maskanto (PMII),
Firdaus, Deris dan Wildan (Himpunan Mahasiswa
Revolusioner Universitas Pasundan), Joko (Gerakan
Aktivis Lingkungan Bandung), Manik (Gebrak), dan Asep
Andriana (Forum Komunikasi Mahasiswa Jatinangor).

Menurut Mako, Koordinator Aksi, aksi ini sebagai wujud
perlawanan terhadap kebijakan yang dikeluarkan
pemerintahan Susilo Bambang Yudhotono dalam menaikkan
harga BBM. Padahal, kata Mako, saat pemilu lalu, SBY
menjanjikan perubahan bagi masyarakat Indonesia.
"Ternyata perubahan itu sama dengan penderitaan rakyat
miskin," katanya di sela-sela aksi.

Selain mendesak pemerintah untuk membatalkan kenaikan
BBM, kata Mako, para pengunjuk rasa ini juga menuntut
pemerintah untuk serius menangkap dan mengadili para
koruptor kelas kakap. "Sita harta mereka, dan jadikan
subsidi untuk rakyat," katanya.

Selain menentang kenaikan BBM, kata Mao, aksi ini juga
ditujukan sebagai bentuk solidaritas terhadap aktivis
GMNI, Monang J Tambunan. Presidium GMNI itu ditangkap
aparat saat melakukan aksi turun ke jalan memperingati
100 hari masa pemerintahan SBY-Kalla beberapa waktu
lalu lalu. "Kami juga mempersembahkan aksi ini untuk
para mahasiswa yang dipukuli aparat saat menggelar
aksi menolak kenaikan BBM di Palu.

Mako tidak bisa memastikan kapan aksi ini akan
berakhir. "Idealnya, aksi akan terus kami lakukan
sampai tuntutan kami dipenuhi," katanya.

Menanggapi aksi ini, Kepala Polisi Wilayah Kota Besar
Bandung Komisaris Besar Sulistiyanto yang mendatangi
lokasi mengatakan selama aksi yang dilakukan para
mahasiswa itu tidak mengganggu ketertiban umum, dia
tidak akan bertindak. "Kita lihat saja, (mereka)
mengganggu (atau) tidak?" katanya seusai
berbincang-bincang dengan para pengunjuk rasa.

Rana Akbari Fitriawan-Tempo