Perompak Tugboat Jepang Berciri Kapal Nelayan Malaysia


TEMPO Interaktif, Jakarta:Teka-teki atas tiga kapal nelayan yang merompak kapal tongkang berbendera Jepang Kuroshio I, masih gelap. Para pelaku yang diduga akan meminta tebusan, hingga kemarin (16/3) belum melakukan kontak komunikasi dengan otoritas laut, baik di Indonesia maupun di Malaysia.

Mukhtar Usman, petugas pada Kepolisian Laut Diraja Malaysia wilayah Utara kepada AFP menyebut "para perompak berasal dari Indonesia, bisa jadi mereka anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM)," kata Mukhtar. Menurut Mukhtar, keyakinannya itu didasarkan fakta bahwa para pembajak memiliki persenjataan memadai. Termasuk, "perompak memiliki peluncur roket, seperti yang dimiliki GAM," kata Mukhtar.

Karuan, pernyataan Mukhtar ini dibantah jurubicara GAM Sofyan Daud. Kepada AFP, Sofyan menyebut bahwa GAM tidak pernah terlibat berbagai aktivitas diluar Aceh. "Kami pejuang kemerdekaan, bukan perompak," kata Sofyan kepada AFP.

Tapi ada identifikasi berbeda. Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama Abdul Malik Yusuf kepada Tempo, Rabu (16/3), dua dari tiga kapal perompak itu dikenal sebagai kapal nelayan berciri khas Malaysia. "Satu kapal lagi belum teridentifikasi," kata Yusuf. Pihaknya juga mengidentifikasi kalau "perompak menggunakan senjata api jenis AK-47 dan roket pelontar granat seperti milik GAM," kata Malik.

Biar begitu, Malik tak mau asal tuduh. "Kemungkinan pelaku bisa beragam," kata Kadispenal, "tergantung motifnya," tambahnya. "Dilihat dari jenis senjata, ada kemungkinan GAM, tapi bisa juga yang lain, karenanya masih kami selidiki," lanjut Malik. Begitu pula dari hasil identifikasi jenis kapal yang dipakai perompak. "Apakah kapal itu memang dipakai perompak Malaysia, atau hanya kapalnya saja yang digunakan, segala kemungkinan sedang kami kembangkan," kata Malik.

Selama ini, menurut Malik, selat Malaka meskipun terbilang sebagai jalur pelayaran yang teramat padat, tapi relatif jarang terjadi perompakan. Dalam periode Januari - Februari lalu, menurut Malik, terjadi beberapa kali usaha perompakan. "Tetapi baru usaha, karena dapat digagalkan," kata Malik. Oleh sebab itu Malik mengaku prihatin atas perompakan yang terjadi dua hari berturut-turut di Bulan Maret ini.

Karenanya pihak TNI AL bekerjasama dengan Tentara Laut Diraja Malaysia dan Angkatan Laut Singapura, memperkuat intensitas pengamanan di Selat Malaka. Tiga negara ini memang terikat kontrak untuk melakukan patroli bersama dalam koordinasi Patroli Malsindo (Malaysia Singapura Indonesia). Malik mengaku, saat ini pengamanan Selat Malaka sedang agak mengendur. Padahal pada waktu dilaksanakan patroli awal Malsindo, paling tidak beroperasi tujuh kapal Indonesia dan masing-masing lima kapal patroli milik Malaysia dan Singapura.

Berdasarkan Ordonansi 39, Selat Malaka sebetulnya berada di bawah tanggungjawab Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP) di Departemen Perhubungan. Namun menurut Menteri Perhubungan Hatta Radjasa, biarpun dibawah KKLP, kapal yang dimiliki lembaganya ini amat terbatas jumlah dan kemampuannya.

Untuk pengamanan terhadap aksi perompakan, menurut Hatta, lebih banyak dilakukan TNI AL. "Karena kalau KPLP yang ngejar perompak, enggak ada meriamnya, nanti digertak malah balik lagi," kata Hatta Selasa lalu (15/3) di Jakarta.. Oleh sebab itu menurut Hatta, pihaknya akan bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Laut, membicarakan soal penguatan patroli di Selat Malaka, terkait aksi perompakan yang baru saja terjadi.

Atas tawaran pemerintah Jepang untuk ikut membantu pengamanan di Selat Malaka, menurut Hatta, pihaknya menyatakan rasa terima kasih. Tapi "sebagai daerah kedaulatan, kita yang harus bertanggungjawab terhadap pengamanan itu," ujar Hatta.

Menurut Malik, TNI AL sendiri saat ini menempatkan patroli dengan kekuatan empat KRI. Yakni KRI Imam Bonjol, KRI Teuku Umar, KRI Todak dan KRI Sutan Taha. Bersiaga pula beberapa Kapal Angkatan Laut (KAL) yang berada di Lanal maupun Lantanal I Medan, yaitu KAL 36 dan KAL 28. Selain itu, diperkuat pengamanan KAL yang ada di pangkalan Dumai, Karimun, Tanjung Pinang, dan Batam.

agus supriyanto/abdul manan

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X