Belanda Hibahkan US$ 22 Juta untuk Program Air Bersih


TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah Belanda menyediakan dana hibah senilai US$ 22 juta untuk program air
bersih dan sanitasi di Indonesia. Dana ini diberikan melalui dana perwalian dan secara
administratif akan dikelola oleh World Bank (Bank Dunia).

"Ini hal yang baik karena hibah ini bisa memancing program-program serupa di masa datang.
Sistem penyediaan air dan sanitasi di Indonesia memang cukup terbengkalai," ujar Suyono
Dikun, Deputi Bidang sarana dan Prasarana Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas
seusai upacara penandatangan hibah yang dilakukan oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia,
Ruud Treffers dan Andrew Steer, Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, di Gedung World
Bank, Jakarta, Rabu (23/3).

Terkait dengan sifat hibah sebagai dana perwalian, Andrew Steer mengatakan bahwa dana hibah
ini bersifat fleksibel dan karenanya belum bisa secara eksplisit diungkapkan bentuk
komponen hibahnya. Namun, Andrew mengisyaratkan bahwa dana hibah itu kemungkinan besar
akan digunakan untuk pengembangan sistem kelembagaan institusi pengelolaan sumber daya air,
mendukung upaya efisiensi perusahaan-perusahaan daerah air minum, dan untuk membantu
pemerintah menghasilkan suatu kerangka kebijakan, strategi dan peraturan demi meningkatkan
investasi publik dan pelayananan air bersih. "Ada US$ 8 juta yang dikhususkan untuk
sanitasi. Tapi, secara umum, hibah ini akan berfokus pada pengembangan kelembagaan yang
membuat jaringan penyediaan demi mendukung upaya pemerintah meningkatkan akses keberlanjutan
terhadap pelayanan air bersih dan fasilitas sanitasi bagi semua rakyat Indonesia,
khususnya kalangan miskin," urai Andrew.

Hampir senada dengan Andrew Steer, Suyono Dikun mengungkapkan bahwa sekalipun secara
administratif hibah itu dikelola Bank Dunia, tapi Bappenas tetap akan bernegosiasi agar
penggunaan dana hibah itu tetap sejalan dengan rencana-rencana pemerintah. "Kalau tidak
bagus, kita bilang jangan," ujarnya.

Thoso Priharnowo-Tempo

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X