Hari ini ZA Maulani Dimakamkan
TEMPO Interaktif, Jakarta:Setelah disemayamkan sehari di rumah duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, Letnan Jendral Zaini Azhar Maulani akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, bakda dzuhur pukul 13.00, Rabu (6/4).
Letnan Jendral ZA Maulani, lahir 6 Januari 1939 di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. meninggal di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (5/4) jam 16.00 WIB. Meninggalkan seorang istri, 6 anak, dan 19 cucu.
Menurut putra sulungnya Haryogi Maulani, almarhum menderita sakit diabetes dan paru-paru sejak lama. Sebelum dirawat di RSPAD sejak 23 Januari 2005 telah dirawat di RS Bintaro dan RS Pondok Indah. "Bapak sangat sibuk berdakwah dan ceramah agama,"ujarnya disela-sela tamu yang bertakziyah.
ZA Maulani menyelesaikan pendidikan Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang tahun 1961, Command and General Staff College, Quetta, Pakistan pada 1971 dan Lemhanas tahun 1982. Maulani pernah menjabat Komandan Yonif 320/Kudjang Siliwang tahun 1973 dan Panglima Kodam VI Tanjungpura tahun 1988-1991. Dari Kodam Tanjungpura menjabat Sekretaris jenderal Departemen transmigrasi tahun 1991-1995. kemudian menjadi staf ahli Menristek/BPPT pada tahun 1995-1998. Lalu menjadi Kepala Badan Koordinasi Intelejen Negara (Bakin) saat Bachrudin Jusuf Habibie menjadi presiden.
ZA Maulani juga penulis soal militer, inlejen dan gerakan Islam. Intel kelahiran Kalimantan Selatan, selama ini dikenal dekat dengan gerakan-gerakan Islam. Karena beliau juga pernah menjadi aktifis Pelajar Islam Indonesia (PII).
Menurut Mayor Jenderal. Purn. Kivlan Zen, mantan Kepala Staf Kostrad, semasa hidupnya amalan-amalan Maulani sangat bagus, sebagai seorang militer, pengabdiannya terhadap republik tidak diragukan lagi. Misalnya ditunjukkan dalam membela Presiden Habibie. "Ketika itu Pak Maulani sebagai Kepala Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara). Waktu itu ada informasi intelijen yang masuk bahwa akan terjadi demo besar-besaran anti Habibie menyerang MPR dan Istana,"ujarnya.
Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)Amidhan, umat Islam kehilangan tokoh besar. Setelah tidak menjabat di militer dan birokrasi, beliau aktif di ormas Islam. Diantaranya memimpin Perhimpunan Keluarga Besar PII (Pelajar Islam Indonesia). Disampi ng itu, beliau sering dimintai oleh MUI dalam forum ukhuwah islamiyah dalam mensikapi kondisi politik sekarang ini, terutama ketika Amerika Serikat menyerbu Afghanistan dan Irak.
Almarhum tidak saja dikenal sebagai seorang militer tetapi juga sebagai juga ulama. "Beliau kalau khotbah dimana-mana tidak canggung dan bagus. Meskipun beliau sebagai Panglima Pangdam Tanjung Pura, beliau kerap ceramah di daerah-daerah dan diterima dengan baik oleh masyarakat,"kata Amidhan.
Ahmad Taufik dan Choirul Aminuddin













