Menteri: Perbatasan Singapura Rawan Penyelundupan


TEMPO Interaktif, Batam:Perbatasan Indonesia dan Singapura selama ini telah menjadi wilayah yang rawan penyelundupan bahan bakar minyak (BBM). Dalam tiga bulan terakhir telah tertangkap beberapa kapal yang berusaha menyelundupkan BBM.

"Ada dua jalur yang rawan penyelundupan, yaitu antara Pulau Nipah dan Tanjung Karimun. Jalur lainnya adalah perairan internasional," kata Purnomo Yusgiantoro di Batam, Minggu (17/4).

Menurut Purnomo, dalam tiga bulan ini sudah ada dua atau tiga kapal yang tertangkap di Tanjung Karimun. Pada bulan Februari ditangkap kapal bernama Lyonese, membawa 178 ribu liter solar, ditangkap oleh Angkatan Laut di Batam. Kemudian, tertangkap juga kapal MT Jayanegara membawa solar 270 ribu liter.

Purnomo menduga selama ini di Pulau Nipah sering terjadi penyelundupan karena mulai pukul 6 sore kapal tidak lagi diperbolehkan mendekati Singapura, maka kapal tersebut melakukan lego jangkar di Pulai Nipah. "Kemungkinan saat lego jangkar tersebut tejadi penyelundupan," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa mengatakan mulai 1 Januari lalu IMO (International Maritim Organization) telah mengizinkan kapal-kapal lego jangkar di Pulau Nipah. "Maka kami harus mempersiapkan diri," ujarnya.

Pemerintah berencana akan memperkuat patroli di sekitar kawasan tersebut. Di samping itu dalam tahun ini akan dibangun 20 menara suar dengan investasi sekitar Rp 40 miliar. "Kami juga akan membentuk unit pelaksana teknis untuk mengelola fasilitas tersebut," ujar Hatta.

Hatta mengharapkan dalam tahun ini akan mengajukan struktur baru tersebut kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. "Saya kira tidak akan ada hambatan," katanya.

Mengenai jumlah kerugian akibat penyelundupan BBM, Purnomo belum dapat memastikan. "Kalau dari yang tertangkap, satu kapal sekita Rp 500 juta," tandasnya. Perkiraannya, ada sekitar 10-20 persen dari BBM yang telah diselundupkan.

muhamad fasabeni

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X