Pemerintah Bantah Akan Bangun PLTN Muria pada 2010


TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro membantah jika pemerintah mempercepat pelaksanaan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Mulia dari 2016 menjadi 2010. “Nggak, nggak belum,” kata Purnomo kepada wartawan di Istana Negara, Senin (18/4).

Sebab, sebelum pembangunan dilakukan pemerintah perlu terlebih dulu memperoleh penerimaan masyarakat atas rencana ini. “Mesti disosialisasikan apakah masyarakat bisa menerima,” kata Purnomo.

Ia juga mempertanyakan apakah tidak ada energi lain yang bisa didorong untuk menggantikan energi konvensional, yaitu minyak dan gas. “Misalnya energi panas bumi,” kata doktor bidang Ekonomi Mineral dan Sumber Daya Alam dari Universitas Colorado, Amerika itu.

Menurut dia, Indonesia memiliki 40 persen dari total cadangan panas bumi di dunia, yang jumlahnya mencapai 20 ribu megawatt. “Apakah mungkin disubsitusi sehingga nuklir tidak perlu,” kata dia.

Sebelumnya, Kepala Badan Tenaga Atom dan Nuklir Soedyartomo menyatakan PLTN Muria yang berkapasitas 4.000 megawatt akan dibangun pada 2010, dan proses tender akan dimulai pada 2008 (Koran Tempo, 18/4).

Namun, menurut Purnomo, tahun 2010 itu baru kemungkinan persiapan pembangunan. Ia sendiri menyarankan agar wartawan menanyakan hal itu secara detil ke menteri riset dan teknologi. Karena kementerian itulah yang menjadi ujung tombak pengkajian kelayakan energi ini.

Secara terpisah, Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar mengatakan sebaiknya energi nuklir baru dikembangkan ketika sumber daya Indonesia siap menanganinya. “Misalnya pada 2050,” kata dia. Ini karena energi nuklir memiliki tingkat polusi yang mematikan jika sampai mengalami kebocoran. “Satu pulau bisa lenyap sekaligus,” kata dia. “Ini beda dengan polusi energi listrik yang sifatnya bertahap.” Budi Riza

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X