Suku Bunga SBI Naik, 7,81 Persen

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Dari hasil lelangnya Rabu lalu, SBI untuk tenor 1 bulan naik dari sebelumnya 7,7 persen menjadi 7,81 persen. Dalam lelangnya, BI menyerap dana sebesar Rp 53,61 triliun atau 93,28 persen dari jumlah lelang yang diterima BI.

Menurut Direktur Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Halim Alamsyah, tidak ada alasan khusus BI menaikkan suku bunga SBI tersebut. "Tidak ada alasan apa-apa, tapi karena permintaan bank naik. Dan supaya bisa mengatasi ekses likuiditas yang berlebih," katanya pada TEMPO, Kamis (5/5) di Jakarta.

BI dalam menaikkan SBI, dipastikan Halim, tidak hanya untuk menjaga nilai tukar rupiah, tapi juga menjaga stabilitas moneter. "Konteksnya bukan hanya rupiah, tapi juga (menjaga) ekspektasi inflasi,"katanya.

Apakah kenaikan SBI dikarenakan kenaikan suku bunga The Fed? Menurut Halim, faktor yang diperhatikan BI tidak hanya dari luar negeri tapi juga dalam negeri. "Tapi berdasar pengalaman kami (BI), kenaikan The Fed tidak one to one. Tidak berarti kenaikan The Fed 15 basis poin, menyebabkan BI menaikkan suku bunga SBI menjadi 15 basis poin,"katanya.

Kaitannya dengan hasil lelang kedua Fine Tune Kontraksi (FTK) yang dilakukan BI (2/5), Halim menilai FTK tersebut sudah cukup berhasil. Dalam FTK tenor empat hari dengan tingkat bunga sebesar 5,75 persen ini, BI berhasil meraup kelebihan likuiditas di perbankan sebesar Rp 553 miliar.

FTK tersebut, menurut Halim, bertujuan agar tidak lagi terjadi gejolak terhadap pasar uang rupiah dari hari ke hari. "Selain itu, lelang FTK ditujukan agar sinyal yang diinginkan BI lebih jelas terlihat oleh pasar,"katanya. ucapnya.

Kenaikan SBI bertenor 1 bulan menjadi 7,81 persen juga berlaku pada SBI dengan tenor 3 bulan. Namun kenaikan SBI dengan tenor 3 bulan ini naik sebesar 30 basis poin, dimana sebelumnya berada di level 7,51 persen. Lelang SBI 3 bulan tersebut menyerap dana sebesar Rp 0,32 triliun atau 100 persen dari jumlah lelang yang diterima.

Menurut Direktur utama Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Fadhil Hasan menilai kebijakan BI menaikkan suku bunga SBI bisa berimplikasi negatif bagi fungsi intermediasi perbankan. "Kalau SBI terus meningkat, bisa jadi bank lebih suka menaruh uangnya di SBI, daripada menyalurkan kredit,"katanya.

Selain itu, kenaikan SBI akan diantisipasi negatif oleh pasar saham. "Saham dalam short term mungkin tidak menarik lagi. Bank-bank atau pemain pasar yang lain akan mengalihkan dananya dari pasar modal ke pasar uang,"kata Fadhil.

Fadhil memprediksi dengan kenaikan suku bunga SBI yang mendekati 8 persen saat ini, tidak mustahil sampai akhir tahun SBI bisa melebihi target SBI di APBN-P. "Bisa melebihi 8 persen. Apalagi jika ditambah ekspektasi inflasi yang cukup tinggi,"ujarnya.

Rr. Ariyani