Penyimpangan TI di Beberapa BUMN Diselidiki

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sektor Teknologi Informasi (TI) menjadi cara mudah untuk mengkorup uang negara. Karena itu Menteri Negara BUMN Sugiharto meminta kepada jajaran baru PT Bank Mandiri TBk untuk dapat menghemat pengeluaran sektor teknologi informasi. Caranya, dengan melakukan kerjsama antar bank-bank BUMN maupun bank-bank swasta lainnya.

Jajaran direksi Bank Mandiri yang baru terpilih ditantang untuk meningkatkan efektvitas pengeluaran, terutama untuk sektor teknologi informasi. Sugiharto mendorong Bank Mandiri untuk melakukan kerjasama strategis dengan bank-bank BUMN lainnya, termasuk bank swasta. "Alasannya apakah bank-bank pemerintah bisa menurunkan biaya teknologi informasi, yang merupakan biaya utama bagi sektor perbankan,"kata Sugiharto dalam konfrensi pers di Kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (20/5).

Supaya biaya pengadaan teknologi informasi lebih efisien, diperlukan pembagian pengeluaran diantara bank-bank. "Sehingga menjadi efektif bila dilibatkan masing-masing bank,"kata Sugiharto.

Sugiharto sendiri dalam kesempatan berbeda, pernah menilai bahwa pengeluaran bank-bank BUMN untuk pengadaan teknologi informasi terlalu tinggi. BNI menghabiskan dana US$ 98 juta, BRI sebesar lebih dari US$ 100 juta, dan Bank Mandiri lebih dari US$ 200 juta. "Berdasarkan laporan dari KPK dan BPK, ada indikasi kemungkinan transaksi tidak jujur dalam pengadaan teknologi informasi," kata Sugiharto.

Sugiharto juga mempersilahkan aparat penegak hukum untuk memproses kasus ini secara hukum. Kementerian BUMN, kata dia, tidak berwenang dan tidak memiliki perangkat tersendiri untuk melakukan pemeriksaan lebih mendalam.
"KPK meminta kepada BPK untuk melakukan audit investigatif dalam pengadaan IT BNI. Apakah lebih parah dari dua bank lainnya," kata Sugiharto kemarin di DPR. IT BNI sneilai Rp 1,2 triliun diduga terlalu mahal, karena IT yang serupa pernah ditawarkan ke BCA cuma seharga Rp 700 miliar. Namun, karena merasa IT asal Australia itu tak cocok untuk BCA, ditolak oleh bank swasta itu.

Menurut Sugiharto, seharusnya biaya tersebut bisa ditekan seandainya bank-bank BUMN bekerjasama. "Padahal kalau mereka patungan bikin share surplus, dua per tiga dari biaya IT bisa dikurang," tambah Sugiharto.

Khusus mengenai pengadaan teknologi informasi di Bank Mandiri, Wakil Direktur Utama Bank MAndiri I Wayan Agus Mertayasa, menjelaskan bahwa proses pengadaannya sudah sesuai dengan prosedur yang ada. "Ada steering comittee khusus untuk pengadaan IT,"kata Wayan dalam konfrensi pers bersama Sugiharto.

Sebelum memilih perangkat teknologi informasi untuk Bank Mandiri, menurut Wayan, sudah terlebih dahulu menunjuk konsultan untuk mempelajarinya. "Termasuk flatform mana yang paling tepat untuk Bank Mandiri,"kata Wayan. Bank Mandiri, merupakan kasus khusus karena merupakan penggabungan dari berbagai flatform teknologi informasi berbagai bank yang dilebur.

Wayan memaparkan bahwa sejak penetapan core banking hingga saat ini, banyak peningkatan fungsi teknologi informasi yang bisa diterapkan di Bank Mandiri. "Jadi sejauh ini, pelaksanaan perubahan IT dan proses pengadaannya sudah sesuai dengan prosedur yang benar,"katanya.

Tito Sianipar