Downer Sarankan Corby Minta Grasi


TEMPO Interaktif, Sydney: Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer menyarankan Schapelle Corby yang divonis 20 tahun penjara di Denpasar agar meminta grasi dari Presiden Yudhoyono. Ia menilai, langkah itu yang terbaik guna mengurangi hukuman terpidana pembawa 4,2 kilogram mariyuana itu.

"Sangat memungkinkan untuk memperoleh grasi dari presiden, tetapi bila tidak, satu-satunya jalan adalah meminta pengurangan hukuman," kata Downer yang biasanya menolak mengomentari kasus-kasus pengadilan, Ahad (29/5), di Sydney, Australia.

Namun, saran Downer ditolak oleh para pengacaranya. Mereka menyatakan akan mengajukan banding karena yakin Corby tidak bersalah. Permintaan grasi kepada presiden, menurut Vasu Rasiah, penasihat hukum Corby, menunjukkan kliennya bersalah. "Gadis ini tidak bersalah," kata Vasu Rasiah. "Bagaimana kita bisa meminta grasi?"

Pengadilan Negeri Denpasar menghukum 20 tahun penjara Schapelle Corby, gadis asal Australia yang dituduh membawa 4,2 kilogram mariyuana saat ditangkap di Bandara Ngurah Rai. Segera setelah vonis yang dibacakan Jumat (27/5) lalu, Downer meminta para pembela Corby untuk menyewa pengacara senior di Indonesia.

Downer juga menyatakan, pemerintah siap mengeluarkan dana ekstra untuk membiayai proses banding. Pejabat pemerintah Australia juga akan berkunjung ke Jakarta pada 6 Juni guna menegosiasikan pertukaran tahanan, yang memungkinkan Corby dipenjara di negaranya.

Dalam wawancara hari ini, Downer membantah, bahwa pemerintah memberi perlakuan khusus kepada Corby karena kasus ini memperoleh perhatian luas dari publik Australia. "Kami adalah orang Australia tradisional dan egaliter, apa yang kami lakukan kepada Corby juga akan dilakukan kepada orang lain," kata dia.

Sejauh ini, ada 155 orang Australia dipenjara di luar negeri. Dua di antaranya menghadapi hukuman mati. Namun, pemerintah dinilai tidak memberikan perhatian yang setara dengan perhatian untuk Corby. AFP /Budi

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X