Produk Makanan dan Minuman Kalah Bersaing di Eropa
TEMPO Interaktif, Jakarta:Produk makanan dan minuman olahan asal Indonesia tidak dapat bersaing di pasar Eropa. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia(Gapmmi) Thomas Darmawan mengatakan, produk Indonesia tidak dapat memenuhi persyaratan ramah lingkungan yang diminta pasar.
“Biasanya supermarket, importir atau pembeli meminta logo yang menyatakan produk itu ramah lingkungan,” kata Thomas Darmawan, di Jakarta, Kamis(2/6).
Ia mencontohkan, untuk minuman dalam kemasan kotak atau tetrapack yang akan diekspor ke Jerman harus mencantumkan label Blue Sky atau logo-logo ramah lingkungan lainnya. Logo itu menjamin produk yang telah dikonsumsi limbahnya bisa didaur ulang.
Di Indonesia, pencantuman logo ramah lingkungan belum banyak dilakukan produsen. Rencananya, logo ramah lingkungan versi Indonesia segera diterbitkan. Pencantuman logo itu berdasarkan aturan Badan Standardisasi Nasional dan Komite Akreditasi Nasional. Untuk menghemat biaya, Thomas menyarankan, sertifikat ramah lingkungan harus dikeluarkan lembaga pemerintah. Sebab, produsen enggan memakai produksi yang ramah lingkungan karena biayanya mahal.
Akibat masalah ini, lanjutnya, importir di luar negeri lebih senang membeli produk Indonesia dalam bentuk mentah. ”Mereka lebih senang mengimpor biji kopi, kakao, atau minyak sawit mentah dibanding makanan dan minuman yang diolah,” ujarnya.
Menurutnya, pencantuman logo ramah lingkungan merupakan satu hambatan perdagangan nontarif di Eropa. Mengatasi hambatan ini, dia menyarankan pemerintah menjalin lobi dengan negara-negara Eropa yang lebih longgar.
Pada 2004, ekspor makanan dan minuman olahan mencapai US$1,2 miliar. Sedangkan impornya US$ 4 miliar. Sementara produksi nasional mencapai Rp 220 triliun. Produksi makanan dan minuman diprediksi tumbuh 10 persen. Sutarto





