Topik
Ada Mogok Makan di UI
TEMPO Interaktif, Jakarta:Wajah ibu muda itu tampak berseri-seri. Walau gurat kelelahan dan rasa lelah akibat rasa lapar mulai tergambar di wajahnya, ia tetap bersemangat menceritakan perjuangannya.
Adriana Venny, nama perempuan itu, sejak Jumat (3/6) pukul 14.00 WIB melakukan aksi mogok makan bersama dua orang temannya Baby Ahnan dan Rhyda Aida, mahasiswa program doktoral jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI) angkatan 2001. Pemicu aksi mogok adalah Venny di drop out karena melanggar peraturan administrasi. Cuti empat semester tanpa registrasi ulang tiap tahunnya sebagaimana tercantum dalam peraturan yang tertuang di buku kuning. Kedua temannya ikut mogok dengan alasan solidaritas dan mendukung perjuangan temannya.
Mereka menuntut pihak UI meninjau kembali sanksi drop out dan menerima kembali Venny sebagai mahasiswa. "Semua mata kuliah sudah saya selesaikan. Tinggal tesis," kata mahasiswa dengan IPK 3,5 itu.
Venny mengakui dirinya selama ini tidak membaca buku kuning sehingga tidak mengetahui, jika ijin cuti, setiap semester tetap harus registrasi ulang seperti mahasiswa lain. "Saya melanggar peraturan administrasi, seharusnya sanksinya juga sanksi administrasi berupa denda atau bentuk lain, bukan sanksi akademik dengan drop out begini,"katanya.
Venny bercerita, dirinya cuti sejak semester empat kuliahnya bulan Januari 2003 karena hamil dan melahirkan anak pertamanya bernama Seza yang kini berusia hampir dua tahun. Usai melahirkan, Venny merasa perlu menambah waktu cuti karena ingin merawat buah hatinya di Bandung, tempat tinggalnya. Tahun 2004, Venny terpilih sebagai direktur eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan sehingga dia disibukkan oleh peralihan jabatan.
Januari 2005, Venny memutuskan melanjutkan kuliahnya yang tinggal dua semester untuk menyelesaikan tesis. "Sebelum cuti saya sudah mengikuti seminar pra kualifikasi tesis. Tinggal tiga seminar lagi sebelum meraih gelar doktor, yaitu seminar kualifikasi, seminar hasil, dan promosi,"katanya . Dua temannya yang ikut aksi mogok tak lama lagi akan menjalani seminar promosi.
Venny kaget, karena saat mendaftar, petugas menyatakan namanya sudah tidak terdaftar sebagai mahasiswa program doktoral jurusan filsafat, Fakultas Ilmu Budaya, UI. Venny langsung menanyakan ke departemen dan Fakultas, dan dia harus menerima kenyataaan di drop out karena lebih dari dua semester tidak mendaftar ulang tanpa berita.
Pihak departemen filsafat, menurut Venny, dapat menerima dirinya kembali. "Lalu saya mengurus ke rektorat yang mengatakan mau membantu asal ada rekomendasi dari Fakultas Ilmu Budaya. Nah, pihak fakultas menolak," katanya Venny.
Sejak Januari hingga Juni, Venny mengaku tak henti berjuang namun hasilnya tetap sama. "Fakultas berpegang teguh pada buku kuning dan menolak menerima saya kembali dengan alasan nama saya sudah terhapus dari sistem UI yang sudah komputerisasi,"ujarnya.
Pertemuan terakhir, pada Jumat (2/6), antara rektorat, fakultas, sdan departemen filsafat tidak membawa hasil positif bagi Venny. "Aksi mogok ini adalah perjuangan terakhir saya,"kata Venny yang menyesalkan janji Rektor yang pernah menjamin tidak akan ada mahasiswa UI yang di DO karena alasan administrasi.
Venny menyatakan, Senin akan ada pembicaraan dengan departemen filsafat, fakultas Ilmu Budaya, dan senat seluruh Fakultas. "Kami akan tetap demo hingga Senin dan akan berlanjut hingga tuntutan kami dipenuhi,"kata.
Dekan FIB Ida Sundari Husen menawarkan jalan keluar agar Venny mendaftar kembali sebagai mahasiswa baru dengan prosedur sebagaimana mestinya. Kredit kuliah yang telah diambil Venny akan dipertimbangkan. Venny menyatakan belum pernah menerima tawaran itu. Walau begitu, Venny menilai tawaran itu tidak masuk akal. "Saya mendaftar kembali kemana? Sejak tahun 2002 jurusan Filsafat sudah ditutup dan tidak menerima mahasiswa baru,"ujarnya heran.
Suami Venny, Widi, yang menemani istrinya mengaku baru mengetahui niat istrinya mogok makan beberapa saat sebelum aksi dimulai. "Tidak ada rencana sebelumnya. Saya kaget menerima pesanya lewat sms, tapi saya mendukung,"kata Widi yang menyatakan anaknya kini dirawat orangtuanya di Bandung. Venny dan Widi menyatakan, pihak keluarga mendukung tindakannya.
Suliyanti Pakpahan





