Presiden Minta Penghematan Energi Tak Disalahartikan
TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat tidak salah menafsirkan penghematan energi yang diintruksikan. Penghematan energi, kata dia, adalah mengurangi pemakaian listrik dan bahan bakar yang memang bisa dikurangi.
"Misalnya penggunaan listrik di siang hari yang tidak diperlukan dan penggunaan AC yang terlalu dingin. Namun, jika memang diperlukan listrik, tidak perlu dimatikan yang bisa mengganggu tugas," kata Presiden saat menyaksikan penandatanganan naskah kesepakatan bersama TNI dan Polri, Senin (18/7), di KRI Tanjung Nusanive-973.
Presiden menambahkan, secara akumulatif tindakan seperti itu dapat mengurangi komsumsi bahan bakar. Imbauan penghematan, Presiden melanjutkan, hanya solusi jangka pendek dan tidak bermaksud mengganggu aktivitas ekonomi.
Imbauan untuk menghemat ditujuan terutama kepada jajaran pemerintah pusat dan daerah, perusahaan negara, serta perusahaan daerah. Presiden juga mengingatkan perlunya penegakan hukum secara jelas guna menghindari penyelundupan bahan bakar besar-besaran keluar negeri.
Presiden didampingi Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Sri Mulyani, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, Ketua MA Bagir Manan. Penandatangan naskah dilakukan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kepaal Polri Jenderal Sutanto. Sunariah