Ekonom : Inflasi Perlu Diperlebar ke 8,4 Persen
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ekonom INDEF Iman Sugema menyatakan target pemerintah mengendalikan inflasi di tingkat 7,5 persen sulit dilakukan. Ia memperkirakan dengan krisis suplai bahan bakar minyak yang semakin tinggi, inflasi akan berada pada rentang 7,8 sampai 8,4 persen.
Sumber inflasi menurut Iman terjadi karena faktor penyediaan (supply). Kenaikan harga BBM, menyebabkan transportasi tersendat sehingga suplai barang ke daerah terhambat. "Akhirnya harga barang naik,"ujar Iman di Jakarta, Rabu (3/8). Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah terdepresiasi sebanyak 6 persen dalam enam bulan terakhir dan berdampak pada barang-barang impor dan biaya produksi. " Jika BI mengambil langkah dari sisi permintaan (demand) tidak akan efektif dan susah membawa inflasi ke level 7,5 persen,"kata Iman.
Dengan inflasi 7,8 persen, menurut Iman, tidak mungkin mematok suku bunga SBI pada tingkat 8,25 persen. " Karena banyak ketidakpastian, inflasi tetap harus diperlebar hingga 8,4 persen,"ujarnya.
Iman memperkirakan, harga minyak dunia akan terus meningkat karena negara-negara Eropa dan Amerika Utara akan mengalami musim dingin. "Mereka akan menambah terus stok minyak, akibatnya harga akan meningkat,"ujarnya.
Mengantisipasi hal tersebut, Iman menyarankan harga BBM di APBN ditetapkan US$ 55 per barel. Defisit anggaran bukan disebabkan oleh kenaikan harga minyak. "Tetapi pengeluaran yang lain, terutama hutang luar negeri," katanya
Iman menjelaskan,berdasarkan skenario INDEF pada APBN, dengan asumsi harga minyak dunia US$ 60 per barel dan nilai tukar Rp 9.300/US$ pengeluaran sektor minyak gas meningkat sebesar Rp 129 triliun, sementara dana bagi hasil migas pun meningkat sebesar Rp 36,7 triliun. "
Namun pemerintah menerima tambahan penerimaan dari sektor migas dengan kenaikan harga minyak dunia ini," katanya.
Penerimaan meningkat menjadi Rp 212,7 triliun yang berasal dari PPh dan SDA migas. "Pemerintah memperoleh tambahan penerimaan netto sebesar Rp 83,7 triliun,"ujar Iman. Angka tersebut, lebih besar dari tingkat harga minyak US$ 45 per barel.
Astri Wahyuni dan Rr Ariyani





