Topik
Infografis
Pedagang Pasar Blora Menolak Pindah Tanpa Pesangon
TEMPO Interaktif, Jakarta:Puluhan pedagang Pasar Blora, Jakarta Pusat masih bertahan. Meski pasar tersebut telah dinyatakan dilikuidasi oleh PD Pasar Jaya. Mereka menolak pindah sebelum memperoleh gantirugi dari PD Pasar Jaya. "Memangnya kami apa diusir begitu saja?"ujar Abu Naim Ismail, pedagang sayur dipasar tersebut.
Abu memang mengakui sejak 2002 hak pakai terhadap lokasi tempatnya berjualan telah habis. Namun pihaknya menolak kalau harus meninggalkan lokasi begitu saja tanpa ada uang pesangon yang memadai untuk memulai usaha baru.
Selama ini, ia mengaku memiliki SIT (Surat Ijin Tempat) yang PBB –nya dibayar setiap tahun. Sehingga kalau harus meninggalkan lokasi itu ia juga menuntut ada uang penggantian.
Pihak PD Pasar Jaya belum merespon tuntutan para pedagang. Hingga para pedagang tetap bertahan di lokasi dan tetap berjualan. "Sudah dua kali pertemuan dengan PD Pasar Jaya tetapi belum ada kesepakatan,"ujar Abu.
PD Pasar Jaya juga belum terlihat menghentikan operasional kantor pengelola pasar Blora. Meski jumlah pegawai pasar yang dipekerjakan disusutkan. Saat ini masih ada 4 petugas pengelola pasar yang aktif ditempat itu dari 7 petugas sebelumnya. PD Pasar Jaya, menurut Abu, juga masih melakukan kegiatan pemungutan retribusi sewa tempat terhadap para pedagang.
Menurut Abu jumlah pedagang yang ada di lokasi pasar itu sebenarnya mencapai sekitar 300 kios. Namun saat ini jumlah pedagang yang aktif hanya sekitar 60 pedagang. Paling banyak pedagang produk sembako dan sayur mayur. Pedagang daging dan ikan hanya ada satu orang. Pedagang ayam masih ada 3 tiga orang, namun sejak ada kasus flu burung ketiganya saat ini tutup.
Menurut Hermanto, mantan pegawai pasar Blora, yang kini tinggal disekitar lokasi Pasar dirasakan sepi sejak menjamurnya bangunan gedung –gedung tinggi disekitar kawasan Sudirman. Akibat pembangunan itu, banyak warga yang digusur dan pindah dari lokasi tersebut. Selain itu pasar yang diresmikan tahun 1972 ini belum pernah direnovasi sehingga kondisinya memprihatinkan, becek dan kumuh dan tidak diminati pembeli.
Meski dalam kondisi antara hidup dan mati ini, menurut Abu setiap hari masih banyak pembeli berbelanja. Terutama pada pagi hari. Abu yang menjual sayur mayur dan kelapa ini mengaku masih bisa meraup omset Rp 600 perhari. "Selagi mau jualan sebenarnya ada aja sih yang beli,"katanya.
Pedagang lainnya Nok Siti Fatimah, juga mengaku belum akan pindah sebelum ada uang pesangon untuk pindah. "Lagi pula mau pindah kemana, pelanggan tahunya usaha kami disini, kalau pindah saya akan kehilangan pelanggan,"ujarnya. Karenanya pemilik kios jahit ini meminta sebaiknya Pasar Blora tidak dihapuskan tetapi dibangun lagi.
Ramidi
Web via