Kebakaran Hutan Riau Meluas di 1.732 Lokasi


TEMPO Interaktif, Pekanbaru:Kawasan hutan dan lahan Riau yang terbakar terus meluas. Jumlah titik api (hot spot) kini mencapai 1.732 lokasi dengan luas cakupan mencapai 22 hingga 25 ribu hektare tersebar di 12 kabupaten di Riau. Menurut data Satelit Terra Modis per 10 Agustus, hanya berselang 24 jam terjadi penambahan 215 titik api baru.

"Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali berharap hujan turun. Dari mapping (pemetaan) cakupan satelit itu diketahui sekitar 19.500 hektare atau sekitar 75 persen lahan yang terbakar sekarang ini adalah lahan gambut kering yang sulit padam," ujar Ahmad Zazali, Wakil Koordinator dan Bidang Data Jaringan Kertja Penyelamatan Hutan Riau (Jikalahari) di Pekanbaru, Kamis (11/8).

Menurut catatan Jikalahari, konsorsium yang membawahi 28 LSM lingkungan, titik api terparah dan terbanyak terdapat di Kabupaten Rokan Hilir. Di kawasan yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka itu terdapat 885 titik api. Kemudian menyusul Kabupaten Rokan Hulu dengan 313 titik api.

Khusus untuk Rokan Hilir diketahui cakupan kebakaran hampir 90 persen berada di lahan gambut. "Dengan penyebaran hot spot di 12 kabupaten/kota itu, mestinya Riau sudah harus dinyatakan Siaga I. Kita tidak dapat bayangkan jika seminggu ke depan Riau tidak diguyur hujan," ujar Ahmad Zazali.

Kawasan yang terbakar itu nyaris terdapat di hampir semua perusahaan kehutanan dan perkebunan yang ada di Riau. Tercatat 31 perusahaan Tanaman Industri (HTI), di antaranya PT Rimba Rokan, PT Selaras Abadi, PT RAPP, PT Ararabadi dan PT Selaras Hati, memiliki puluhan titik api.

Sementara dari 15 pemegang lisensi HPH yang ada di Riau, diketahui hutan terbakar terdapat pada kawasan 12 perusahaan HPH, di antaranya PT Siberida Wahana Sejahtera, Sri Buana Dumai, Siak Raya dan PT Rokan Permai. Untuk perkebunan diketahui 64 perkebunan lahannya terbakar. Lokasi perusahaan yang terbakar itu, di antaranya PT ADEI, PT Aditia Palma Nusantara, PT Inti Indosawit, dan PT Gunung Mas Raya.

jupernalis samosir

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X