Pemerintah Akui Harga Minyak Kurang Realistis
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah mengakui asumsi harga minyak dalam anggaran negara tahun 2006 kurang realistis seperti disuarakan pelbagai kalangan.
"Memang," kata Kepala Badan Pengkajian Ekonomi Departemen Keuangan Anggito Abimanyu di Jakarta, Kamis (18/8), "Pak SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) juga mengaku harga itu kurang realistis."
Menurut Anggito, asumsi itu ditetapkan pada Juni 2005 karena pemerintah harus menyerahkan asumsi makro tahun depan pada pertengahan tahun ini. Pada waktu itu, harga minyak dunia berada dalam kisaran US$ 45-45 per barel.
Karena itu pemerintah membuka peluang perubahan asumsi yang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Menentukan harga minyak, kata Anggito, perlu hati-hati agar asumsi tak ditetapkan terlalu tinggi sementara realisasinya jauh lebih rendah. "Susah motong anggarannya," katanya.
Ia sendiri memperkirakan, asumsi harga minyak yang realistis tahun depan sebesar US$ 45 per barel. "Saya akan usulkan ini ke DPR," katanya.
Usulan perubahan ini akan berdampak pada naiknya penerimaan dan belanja negara. Namun, ujar Anggito, kenaikan itu tak akan memperngaruhi pertumbuhan ekonomi 6,2 persen.
Suryani Ika Sari
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
Berita Utama Bisnis
- SBY Masih Rahasiakan Soal Menteri Keuangan Baru
- Pasar Kosmetik Ditargetkan Tembus Rp 11 Triliun
- Hatta Tanda Tangani Surat Pemberhentian Oknum Pajak
- ASEI Raih Peringkat BBB- Dari Fitch Ratings
- Merek Asli Indonesia Bakal Bangkit Lagi
- Harga Properti Kelas Menengah Melambung
- Terima Suap, Hatta Minta Oknum Pajak Dihukum Berat













