FBR : Tanah Warga Betawi Dirampas Penguasa Orde Baru

TEMPO Interaktif, Jakarta:Meski siang ini meninggalkan Gedung Sona Topas yang sempat ditutup paksa selama siang hari, Forum Betawi Rempug (FBR) berjanji akan mengerahkan massa lebih besar bila persoalan sengketa tanah di kawasan itu tak segera diselesaikan.
"Hasil pertemuan hari ini, pengelola Gedung Sona Topas berjanji besok (29/9) akan memfasilitasi pertemuan dengan Irwan, sebagai pihak yang memiliki masalah dengan Irsyad, ahli waris almarhum H. Saidi bin H. Ali,"kataKetua Tim Khusus Dedengkot FBR, Dhani Setiawan.

FBR mengaku turun tangan untuk melindungi ahli waris alm. H. Saidi bin H. Ali yang merupakan anggota FBR. "Kami menunggu hasil esok hari. Kalau tak bisa bermusyawarah dan masih tak ada penyelesaian, kami akan mengerahkan massa lebih banyak untuk menduduki dan mengosongkan gedung ini,"kata Dhani.

Menurut Dhani, FBR bertekad mengembalikan hak-hak warga Betawi yang dirampas pemerintahan era Orde Baru. "Tidak hanya di kawasan Sudirman, tapi kalau ada warga Betawi yang tertindas di manapun, hubungi kami,"ujarnya.

Sengketa tanah seluas 8.400 meter² yang kini menjadi Gedung Menara Sona Topas dan Bank Permata terjadi pada awal 1980. Saat itu, tanah milik H. Saidi bin H. Ali yang semula disewakan tiba-tiba kepemilikannya jatuh ke pihak lain. "Pemilik tanah sudah memenangkan perkara hukum ke pengadilan, tapi entah mengapa tetap gagal menguasai kembali tanahnya. Semua akibat arogansi pemerintahan Orde Baru,"ujar Dhani.

Panglima Harian FBR Amrullah menyatakan hari ini pihaknya menarik pasukan. "Tapi, FBR tidak mundur. Kalau besok belum ada kejelasan, kami akan kerahkan lebih banyak anggota se-Jabodetabek,"katanya. FBR tak mau bicara soal ganti rugi. "Itu urusan ahli waris tanah. Kami hanya membela,"katanya.

Menara Sona Topas merupakan perkantoran 21 lantai, antara lain terdapat PT Sumitomo Warehouse Indonesia, Estu & Conmpany, Alpha Archipeago Energy, PT Inti Kapuas Arowana Tbk., Artha Pacific Securities, PT Adijaya Mulya, Bank UOB, Bank Maybank, Sinar Tambang Utama, dan PT Amanda Senaputera.

Pipit, pegawai PT Pacific Capital di lantai 12, menunggu hampir 12 jam sebelum memulai pekerjaannya. "Saya tertahan di luar, sejak 8.30 WIB. Gerah sekali rasanya," kata Pipit saat antre memasuki lift menuju kantornya. Sejak pagi, 3 ribuan massa FBR mengepung Sona Topas Tower dan Bank Permata di Jl. Sudirman, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan itu. Bahkan, sebuah bis FBR berwarna hijau sengaja diletakkan melintang di muka pintu gerbang untuk menghadang karyawan dan kendaraan lain yang akan masuk.

Jojo Raharjo