Polisi Periksa Aktivis Moro di Banten
TEMPO Interaktif, Banten: Kepolisian Daerah Banten, Minggu (9/10), kembali memeriksa beberapa alumni aktivis Moro, Filipina, di wilayah itu. Mereka dinilai mengetahui keberadaan para alumni lain yang kini kabur dari Banten.
Salah satu anggota aktivis Moro yang diperiksa adalah Hadadi alias Abu Zahro. "Kami periksa untuk menyelidiki teman-teman mereka yang kini hilang," ujar Kepala Polda Banten, Komisaris Besar Badrodin Haiti.
Menurut Badrodin, sejumlah warga Banten pernah mendominasi suatu angkatan pelatihan di Moro, Filipina selatan. Pada angkatan itu, hampir separuh anggota yang dilatih berasal dari Banten. "Mereka akan kami periksa," katanya.
Sumber Tempo di Polda Banten mengatakan, Hadadi dijemput di rumahnya di Kampung Banteng, Desa Pangarangan, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Sabtu malam. Ia sebelumnya dibawa ke Polres Cilegon untuk diperiksa.
Namun, tidak lama kemudian petugas memutuskan untuk memindahkan tempat pemeriksaan di Mapolda Banten. "Sampai saat ini pemeriksaan tertutup masih dilakukan," katanya.
Hadadi, menurut sumber ini, juga pernah berjihad di Ambon pada 2002 lalu. Saat itu dia bergabung dengan laskar Jihad pimpinan Jafar Umar Thalib selama dua-tiga bulan.
Saat peledakan bom Bali, 12 Oktober 2002, Hadadi sempat diperiksa karena diduga ikut menyerahkan modal Rp 15 juta kepada Imam Samudra, terpidana mati pelaku bom di Legian itu.
Sumber ini juga membisikkan, sejumlah nama warga Banten yang pernah ikut berlatih militer di Moro antara lain Rosikan, Burhanudin, Suganda Beny alias Abu Fahni, Saptono dan Sumaryono, Ofan alias Aditya, Diniyah, dan Rois alias Iwan Dermawan .
Dari kelompok ini, baru Rois yang tertangkap karena terlibat aksi peledakan bom di depan Keduataan besar Australia, 9 September 2004. Sedangkan beberapa orang dintaranya memang hilang. Faidil Akbar














