Menlu Australia : Terorisme Gagal Memecah-belah Indonesia-Australia


Grafis Terkait

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ledakan Bom Bali 12 Oktober 2002 yang menelan 202 korban tewas dan ratusan lainnya luka-luka, diperingati untuk ketiga kalinya di Ground Zero Kuta (12/10). Acara itu dihadiri Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer, Duta Besar Australia David Ritchie, Konjen Australia Brent hall, Kepala AFP Mick Kelty, Wakil Gubernur Bali Alit Kesuma Kelakan, Kapolda Bali Irjen Made Mangku Pastika, mantan Kapolri Dai Bachtiar, Bupati Badung A.A Gde Agung, dan keluarga korban bom. "Peringatan ini untuk mengenang sekaligus merayakan yang hidup,"ujar Downer pada sambutannya.

Melalui peringatan itu, menurut Downer, akan mengingatkan kepada masyarakat dunia, terutama Asutralia dan Indonesia, untuk selalu berpegang-tangan, kompak penuh rasa persahabatan dalam memerangi terorisme.
Selain itu, peringatan ledakan bom setiap tahunnya,
bakal membuktikan bahwa teroris telah gagal
memecah-belah masyarakat dua bangsa. "Mari kita
buktikan, bahwa Indonesia-Australia adalah bangsa yang
kuat, tidak goyah oleh teror ideologi yang tak
berguna. Justru terorisme telah menginspirasi
kebersamaan,"ujar Downer di hadapan sekitar 200-an
hadirin.

Downer yakin perekonomian Indonesia dan Bali khususnya akan mampu bangkit lagi dalam suasana duka paska bom 1 Oktober. Komitmen Australia akan selalu berada di samping Indonesia dalam memerangi terorisme.
Acara yang dimulai jam 08.00 Wita itu dihadiri
sebagian besar warga Australia yang keluarganya
menjadi korban. Sementara, dari Indonesia hanya
sekitar 20-an orang. Setelah sambutan, acara
dilanjutkan dengan mengheningkan cipta sellama 202
detik untuk mengenang 202 korban tewas.

Downer didampingi para pejabat dan para duta besar meletakan karangan bunga di monumen Bom Bali yang dibangun persis di lahan bekas berdirinya Sari Club. Ia lalu mendatangi dan menyalami dan berbincang-bincang dengan keluarga korban tewas yang berasal dari negaranya.

Rilla Nugraheni

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X