Dua Petinggi GAM Swedia Pantau Draft RUU Nanggroe Aceh


TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Dua petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang selama ini bermukim di Swedia yakni Bakhtiar Abdullah dan Munawar Lisa Zein Senin (31/10) sore tiba di Banda Aceh. Keduanya akan memberi masukan sekaligus memantau perkembangan draft Rancangan Undang Undang Pemerintahan Aceh.

Dua petinggi GAM itu akan membantu memberi masukan
terhadap penyusunan rancangan undang-undang tersebut. "Tapi kemungkinan besar kami akan lebih memantau sudah perkembangan tentang draft tersebut. kamiyakin dan percaya teman-teman di Aceh bisa memberi yang terbaik,"kata Bakhtiar kepada wartawan di ruang VIP Bandara Sultan Iskandar Muda.

Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh saat ini
sedang dibahas di DPRD. Pemerintah daerah menargetkan,
draft tersebut akan dibawa ke Jakarta pertengahan
November. "Jika RUU tersebut tak mengacu pada MoU,
maka itu adalah pelanggaran kesepakatan damai,"kata
Irwandi, utusan senior GAM yang mendampingi Bachtiar.

Selain itu, kepulangan para petinggi GAM mereka juga atas
perintah pimpinan GAM untuk melihat langsung pelaksanaan kesepakatan damai.

Bakhtiar mengaku saat terharu bisa kembali ke kampung
halamannya setelah 25 tahun menetap dan menjadi warga
negara Swedia. "Saya sangat terharu. Saya kehilangan
kata-kata untuk mengungkapkannya,"kata Bakhtiar.

Bahtiar Abdullah dan Munawar Liza Zain, tiba di
Bandara Sultan Iskandar Muda sekitar pukul 16.30 wib,
terlambat setengah jam dari jadwal. Kedatangan mereka dijemput sejumlah tokoh GAM lokal ; Teuku Kamaruzzaman, Amni bin Ahmad Marzuki, Mukhsalmina, Tengku Ahyar (Gubernur GAM Aceh Rayeuk) dan Muhamamd Nazar (Ketua dewan Presidium SIRA).

Dari bandara, rombongan GAM menuju kantor Aceh
Monitoring Mission untuk bertemu ketua tim pemantau
Aceh, Piter Feith. Feith pernah mengimbau petinggi GAM Swedia untuk pulang ke Aceh. Selama dua bulan di Aceh, Bakhtiar juga berencana bertemu sejumlah tokoh GAM seperti Muzakkir Manaf dan mengunjungi makam ulama Aceh.

Yuswardi Ali Suud

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X