Korban Tewas Busung Lapar di NTT Terus Bertambah

TEMPO Interaktif, Jakarta:Korban tewas kasus busung lapar di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam empat bulan terakhir terus bertambah. Data terakhir Dinas Kesehatan NTT menyebutkan korban tewas akibat busung lapar dan gizi buruk hingga akhir November 2005 mencapai 56 balita yang tersebar di 16 kabupaten dan kota. Sebelumnya, korban tewas pada bulan Juli baru 21 balita.

Selain itu, terjadi pembengkakan jumlah balita yang mengalami krisis gizi, yakni mencapai lebih dari 100 ribu orang dengan rincian gizi kurang 85.604 balita, gizi buruk tanpa kelainan klinis 13.917 orang dan gizi buruk dengan kelainan klinis 507 orang.

Jumlah korban tewas terbanyak di Kabupaten Timor Tengah Utara yakni 10 balita, disusul Kabupaten Sumba Timur, Belu, Timor Tengah Selatan dan Kota Kupang, masing-masing delapan balita. Kabupaten Kupang dan Rote Ndao masing-masing tiga balita, Ngada dua balita sementara Manggarai Barat, Manggarai, dan Kabupaten Sikka masing-masing satu balita.

Sekretaris Satlak Penanggulangan Bencana Provinsi NTT, Frans Salem, yang dihubungi di Kupang Selasa (29/11) mengatakan pemerintah sementara berupaya keras untuk melakukan penanganan secara lebih serius. Salah satunya, yakni memberikan makanan tambahan padat gizi bagi para balita dan merevitalisasi keberadaan posyandu di seluruh desa dan kelurahan. "Proses penanganan ini tidak mulus karena banyak kendala yang dihadapi khususnya topografi wilayah yang bergunung-gunung dan banyak daerah kepulauan," ujarnya.

Ia mengakui pemerintah pusat telah membantu dana Rp 47,5 miliar untuk penanganan kasus busung lapar dan gizi buruk. Dana itu sebagian telah digunakan untuk program pemberian makanan tambahan padat gizi dan selebihnya untuk revitalisasi posyandu dan kegiatan administrasi. "Dari total dana bantuan pusat, sekitar Rp 24 miliar belum didistribusikan kepada para bupati karena masih menunggu laporan pertanggungjawaban dana yang dicairkan sebelumnya," kata Frans.

jems de fortuna