Topik
Industri Cor di Klaten Lumpuh, 5 Ribu Pekerja Menganggur
TEMPO Interaktif, Klaten:Sebanyak 5 ribu pekerja industri cor logam di Ceper, Batur, Klaten terancam menganggur. Selain karena sulit mendapatkan kokkas (bahan bakar utama untuk pengecoran), juga tingginya tarif Daya Max Plus yang diberlakukan PLN.
Menurut Anas Yahya, Ketua Umum Koperasi Batur Jaya, Ceper, dari 320 perajin di daerah itu, 220 diantaranya adalah anggota koperasi. Mereka biasanya mendapatkan order untuk memproduksi berbagai komponen pabrik melalui koperasi. Namun sekarang banyak pesanan tidak mampu digarap karena tidak semua koperasi memiliki kokkas.
"Harga kokkas sangat tinggi. Hanya pengrajin yang menggunakan dapur listrik yang mampu mengerjakan,” kata dia, Selasa (13/12). Namun pengrajin yang memiliki
teknologi ini pun hanya sebagian kecil, “Sekitar 10 persennya saja," imbuh Anas.
Untuk memiliki dapur induksi yang menggunakan energi listrik, butuh investasi Rp 1 miliar. Penggunaan teknologi ini kian memberatkan setelah PLN memberlakukan tarif Daya Max Plus. Akibatnya, kata Anas, omset yang pada saat normal mencapai Rp 2,5 milar, anjlok tinggal sekitar Rp 1 miliar per harinya.
"Karena tak mampu mengerjakan pesanan, mau tidak mau para pekerja juga diistirahatkan. Hitungan kasar kami ada lima ribuan pekerja yang saat ini menganggur," ungkap Anas, pemilik PT Bahama Laksaka.
Susanto, perajin di Batur, Ceper membenarkan keterpurukan industri mereka belakangan ini. Dia mengaku terpaksa hanya mengerjakan pesanan sederhana yang tidak membutuhkan bahan bakar terlalu tinggi. Dia hanya membuat kursi hias atau tiang lampu "Padahal biasanya garapan utama kami adalah onderdil mesin, pompa air, dan sambungan pipa," kata Susanto. Imron Rosyid






Web via