Depsos Temukan Praktek Jual Beli Kartu SLT

TEMPO Interaktif, JakartaDirektur Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial Departemen Sosial (Depsos), Amrun Daulay, menyesalkan adanya kelompok masyarakat yang menjual kartu penerima Subsidi Langsung Tunai (SLT).

"Ada pihak-pihak yang berusaha bermain dan mendapatkan uang dari SLT. Ini penyakit di masyarakat kita," kata Amrun, kepada Tempo, Kamis (22/12).

Departemen Sosial, lanjut dia, menemukan beberapa kasus kelompok masyarakat yang menjual kartu SLT, bahkan ada yang menjadi makelar dengan membeli kartu SLT tersebut dengan harga lebih murah daripada jumlah bantuan yang akan diterima.

Di beberapa daerah di Jawa Tengah, misalnya, ada masyarakat yang menjual kartunya seharga Rp 150 ribu karena tidak membutuhkan uang dan tidak mau menunggu hingga pengucuran SLT pada Januari mendatang.

Untuk mencegah meluasnya praktek seperti itu, Depsos bekerja sama dengan Departemen Dalam Negeri telah membentuk tim pengendali penyaluran SLT mulai dari tingkat kelurahan hingga RT.

PT Pos Indonesia juga diminta agar di lapangan petugas mengecek ulang identitas pengambil SLT agar tidak terjadi
salah sasaran dalam pemberian dana tersebut. Menurut Amrun, surat kuasa juga sulit untuk digunakan oleh para pembeli SLT mengambil dana karena hanya berlaku bagi penerima SLT yang sudah lanjut usia. Oktamandjaya Wiguna