Gubernur Bali Minta Ceramah yang Memecah Belah Dihentikan
TEMPO Interaktif, Denpasar:Kerukunan umat beragama di Bali yang selama ini terjalin harmonis terancam rusak. Indikasi ke arah sana menurut Gubernur Bali Dewa Made Beratha sangat nyata. Yakni, dengan maraknya peristiwa-peristiwa yang dimaksudkan menodai salah satu agama.
Pasca bom, berbagai terror menghantui masyarakat dan mengancam keharmonisan masyarakat Bali. Yang terbaru adalah terjadinya teror perusakan tempat ibadah, seperti penempelan kotoran di rumah ibadah serta kitab agama tertentu yang dibubuhi tanda salib. Sebelumnya, beredar pesan pendek yang isinya mengadu domba antar pemeluk agama. "Semua itu bisa merusak nama baik Bali," ujar Beratha di hadapan para pemuka agama dan etnis se-Bali, Selasa (27/12).
Ancaman itu dipercepat dengan banyaknya ceramah-ceramah yang isinya memancing fanatisme agama. Terutama, di kalangan anak muda yang tidak mengetahui sejarah terjalinnya harmonisasi antar-pemeluk agama di Bali. Ia mensinyalir, ceramah-ceramah semacam itu saat ini marak dilakukan oleh pemuka agama. Tanpa merincinya, Beratha berharap aktivitas tersebut diakhiri. Sebab, memicu perselisihan dan pertikaian yang akan merugikan masyarakat Bali. "Sebaiknya isi ceramah yang memuat doktrin agama tertentu dihentikan saja,"Beratha.
Kapolda Bali Brigjen Soenarko Danu Ardanto menyatakan, akan selalu memantau dinamika yang terjadi di masyarakat. Segala langkah antisipasi juga dilakukan.
Rilla Nugraheni