Omzet Perajin Tahu Anjlok


TEMPO Interaktif, Sukoharjo:Ratusan perajin tahu di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, resah menyusul santernya pemberitaan yang menyebutkan penggunaan bahan formalin maupun borax untuk mengawetkan tahu maupun jenis makanan lain seperti ikan asin, bakmi dan bakso. Pasalnya, omzet perajin dan pedagang tahu turun drastis.

Mereka kini kesulitan memasarkan produksi tahu mereka lantaran konsumen membatasi jumlah pembelian atau bahkan banyak yang beralih ke jenis lauk lain. Di antara sentra produksi tahu yang cukup besar di Sukoharjo adalah di Kecamatan Nguter dan Kecamatan Kartasura.

"Gara-gara kasus formalin ini omzet penjualan tahu mengalami penurunan sangat drastis. Terpaksa kami harus mengurangi jumlah produksi dalam jumlah besar. Sudah empat hari ini produksi diturunkan. Jika sebelumnya satu hari kami bisa berproduksi hingga 1,5 kuintal maka kini hanya memproduksi 1,2 kuintal saja," ungkap Supardi (53), perajin tahu dari Dusun Munggur, Desa Plesan Nguter, Sabtu (31/12).

Hal senada juga diungkapkan Ny Bakri (50), perajin tahu dari Dusun Brahu, Desa Celep. Ia mengaku produksi tahu miliknya mengalami penurunan 25 kilogram per hari. "Secara otomatis keuntungan yang kita peroleh pun mengalami penurunan pula," paparnya.

Sebelum ada permasalahan formalin dan borax ini, keuntungan bersih dari usaha produksi tahu mereka sebanyak Rp 50 ribu per hari dan kini menurun tinggal Rp 30 ribu. Setiap biji tahu dijual Rp 100 dengan ukuran kecil, Rp 350 per biji untuk tahu ukuran, dan Rp 400 untuk ukuran besar.

Padahal, lanjut Ny Bakri, pihaknya tidak menggunakan bahan pengawet formalin ataupun borax dalam memproduksi tahu. "Ya tetap kena dampaknya, padahal saya tidak tahu yang namanya formalin atau borax" ujarnya kesal.

Tahu yang mereka buat memang sengaja dibuat kenyal dan agak keras sehinggan tahan hingga 15-20 hari. Tapi kekenyalan itu diperoleh dengan metode pembuatan bukan dengan menambah formalin.

Perajin tahu di Pesalakan, Adiwerna, Tegal, juga mengeluhkan hal yang sama. Menurut salah satu perajin, Darno, 50 tahun, produksi tahu miliknya turun hingga 40 persen.

?Pekan ini hanya produksi sebanyak 60 kilo per hari, padahal pekan lalu sebanyak 100 kilo per hari,? ujarnya. Ia mengatakan selama 25 tahun lebih memproduksi tahu belum pernah menggunakan bahan pengawet dan bahan pewarna seperti formalin. Bahkan Darno mengaku tidak mengetahui tentang formalin. Ia mengenal kata formalin justru dari pemberitaan di televisi dan koran.

anas syahirul/rofiuddin

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X