indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Seorang Uskup Buka Pelecehan Seksual di Gereja


TEMPO Interaktif, Detroit: Uskup Thomas Gumbleton dari Detroit, Amerika Serikat, mengaku mengalami pelecehan seksual oleh seorang pendeta, 60 tahun lalu. Ia kini mengkampanyekan penghapusan batasan waktu bagi korban pelecehan seksual untuk mengajukan penuntutan terhadap pelakunya.

"Saya berbicara berdasarkan pengalaman sendiri, yang saat berusia belasan tahun diperlakukan secara tidak senonoh oleh seorang pendeta," kata Gumbleton, 75 tahun, dalam pengakuan tertulisnya, Rabu waktu setempat. Ia diyakini menjadi uskup pertama yang mengaku sebagai korban pelecehan seksual oleh gereja.

Ia juga menulis bahwa kemungkinan besar ada banyak pelaku pelecehan yang belum diungkap. Satu-satunya jalan untuk membongkarnya, kata dia, melalui pengadilan.

Ia mengajukan proposal ke beberapa negara bagian agar menghapus batasan waktu pengajuan tuntutan hukum, yang dinilainya menghalangi para korban untuk menuntut gereja.

Gumbleton menyatakan kepada harian Washington Post bahwa pengalaman dirinya menunjukkan betapa para korban tak bisa menuntut berdasarkan batasan waktu kadaluarsa itu. Di banyak negara bagian, batasan pengajuan tuntutan berkisar 2-5 tahun setelah kejahatan dilakukan.

Dalam wawancaranya dengan Post, Gumbleton mengaku mengalami pelecehan pada 1945. Ia saat itu siswa tingkat ke-9 Sacred Heart Seminary, Detroit. "Seperti yang sering terjadi," katanya, "sang pendeta mengundang saya dan anak-anak lain ke kamarnya di akhir pekan."

Dituturkannya, sang pendeta awalnya menggumuli seorang anak. Ia lalu memasukkan tangannya ke celana pendek anak-anak itu.

Gumbleton menolak menyebutkan pendeta yang ia maksud. Ia hanya memastikan bahwa pendeta itu sudah meninggal 10 tahun lebih. Ia pun mengaku tak pernah menceritakan pengalaman itu kepada orang tuanya. AP/CNN