Tuntut Ganti Rugi, Warga Kampung Melayu Bertahan di Tenda

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sebanyak 30 kepala keluarga di Kampung Melayu masih bertahan di perkampungan mereka yang akan dilalui rel kereta api empat jalur (double-double track).

Padahal, rumah mereka sudah dibongkar sejak Rabu (18/1) pekan lalu. Saat ini mereka tinggal di tenda yang didirikan di atas reruntuhan rumaha. “Kami tidak akan pindah hingga tuntutan dipenuhi,” kata Asroni, Senin (16/1) ini.

Tuntutan warga adalah agar uang pembayaran ganti rugi diberikan sepenuhnya. Selama ini, yang dibayarkan oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta, seperti pengakuan warga, tidak utuh.

Asroni memberikan contoh. Mestinya dia dapat Rp 60 juta sebagai ganti rugi untuk rumahnya yang seluas 136 meter persegi. Namun yang dia terima hanya Rp 41 juta.

Di lokasi yang kena gusur itu, sebenarnya ada 130 kepala keluarga dari tiga rukun tangga. Sebanyak 100 kepala keluarga sudah pindah. “Ada yang mengontrak, ada yang punya rumah sendiri," ujarnya.

Rata-rata penduduk tersebut adalah pegawai PT Kereta Api. Jadi, mereka tinggal di tanah perusahaan milik pemerintah tersebut atas izin manajemen. Asroni misalnya, saat ini masih tercatat sebagai penjaga pintu kereta api di Pondok Kopi, Jakarta Timur.
Aqidah Swamurti