Sutiyoso Terima Gelar Kanjeng Pangeran Yosonagoro

TEMPO Interaktif, Solo: Sejumlah tokoh penting seperti menteri, hakim agung, gubernur, pengusaha hingga kalangan artis menerima gelar kehormatan dari Raja Keraton Surakarta Hadinigrat, Paku Buwono XIII (PB XIII) Tedjowulan. Wisuda pemberian gelar berlangsung di Ndalem Wuryaningratan, Sabtu siang.

Dari kalangan menteri antara lain Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, yang memperoleh gelar Kanjeng Mas Ayu Swasananingrum. Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga, Adhyaksa Dault menyandang gelar keraton Kanjeng Pangeran Adhyaksanagoro.

Adapun Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menerima gelar dengan sebutan Kanjeng Pangeran Yosonagoro. Hakim Agung Timur Manurung mendapat gelar Kanjeng Pangeran Timurpradoto. Mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional I Putu Gede Ary Suta mendapatkan gelar tambahan Kanjeng Pangeran di depan nama aslinya.

Dari kalangan artis yang juga memperoleh gelar keraton adalah Titik Puspa dengan sebutan Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Puspa Indahsari. Pelawak Tarsan menyandang gelar Kanjeng Raden Tumenggung Tarsodipuro. Puteri Indonesia 2005, Nadine Candrawinata, mendapat sebutan Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Dyah Kusumaningrum.

Gelar keraton ini juga diberikan kepada sejumah pengusaha seperti Santoso Doellah yang juga pemilik Danar Hadi, Rusdi Kirana Direktur Utama Lion Air dan Harry Pramono, Direktur Pemasaran PT Indosiar Visual Mandiri. Mereka yang juga mendapatkan gelar adalah Sri Edy Swasono, Sultan Pontianak Mardan Adijaya Ibrahim, Poppy Darsono dan masih banyak lagi.

"Meski saya ini bukan orang Jawa, tetapi dengan gelar ini saya punya tanggungjawab besar untuk tetap ikut melestarikan budaya Jawa," kata Adhyaksa Dault usai menerima gelar.

Gelar keraton juga diberikan kepada 46 abdi dalem lainnya. Seluruh pemberian gelar disampaikan langsung oleh PB XIII Tedjowulan. Prosesi didahului kedatangan Tedjowulan ke Ndalem Wuryaningratan dengan mengendadai kuda. Setelah semua gelar diberikan, mereka menikmati suguhan tarian Bedoyo Tejo Asih yang dibawakan sembilan penari. Tari ini menggambarkan semangat keprajuritan.

Anas Syahirul