Ibu Kota Timor Leste Lengang


TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Timor Leste, Xanana Gusmao, meminta pihak Gereja Katolik Timor Leste menenangkan situasi menyusul kerusuhan di Kota Dili yang menewaskan 4 orang dan melukai 43 orang warga sipil, Jumat dua pekan lalu.

Permintaan itu disampaikan Xanana dihadapan Mgr. Ricardo da Silva (Uskup Dili) dan Mgr. Basilio do Nascimento (Uskup Baucau) dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Palacio Das Cinzas (Istana Presiden TL), Minggu (7/5).
Menurut Xanana, eksodus besar-besaran warga Dili ke sejumlah distrik pasca kerusuhan Jumat lalu membuat ibu kota sepi.

"Eksodus besar-besaran dalam sepekan terakhir, membuat perekonomian di Dili pincang. Isu akan terjadinya peperangan terus beredar, membuat warga panik dan trauma. Karena itu, selaku Presiden dan Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata, saya mengimbau kepada semua pihak untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu-isu yang menyesatkan. Dili sudah aman. Tidak akan ada perang," imbau Xanana.

Kepada kedua Uskup, Xanana meminta kesediaannya untuk menyampaikan hal ini melalui kotbah di gereja-gereja. "Saya sangat berharap banyak dari kesediaan para pastor di paroki-paroki yang ada untuk menyampaikan pesan ini kepada warga. Dengan demikian, warga kota Dili bisa tenang, dan kembali ke rumahnya masing-masing," pesan Xanana.

Sementara itu, suasana ibu kota negara Timor Leste hingga Senin masih terlihat lengang. Sejumlah kompleks perumahan terlihat kosong. Rumah-rumah warga terkunci rapat. Arus kendaraan yang mengangkut peralatan rumah tangga warga, masih terlihat melaju menuju ke sejumlah distrik. Kebanyakan sekolah belum dibuka, lantaran banyak yang dijadikan tempat penampungan para pengungsi. Terutama sekolah-sekolah katolik yang dikelola para biarawan dan biarawati.

Kompleks Pusat Misi Don Bosco di Comoro, Dili, misalnya, sejak Jumat hingga Minggu petang masih menampung sekitar 951 keluarga atau sekitar 10 ribu orang. Koordinator Voluntir bagi pengungsi di Pusat Misi Don Bosco, Comoro, Geronimo H. Baptista mengatakan, kebanyakan pengungsi asih enggan pulang lantaran takut terjadi perang saudara.

"Bagaimana kami harus pulang ke rumah, jika di lingkungan kami sepi dan beredar isu yang mengatakan akan terjadi perang saudara. Militer dan polisi hanya mengamankan keluarganya ke wilayah distrik terdekat," tutur Helena Fernandes, salah seorang pengungsi di Pusat Misi Don Bosco, Comoro.

Beberapa hari lalu, Perdana Menteri Timor Leste, Mari Alkatiri mengultimatum para pegawai pemerintah untuk segera masuk kantor. Alkatiri memberikan batas waktu hingga Senin (8/5) kepada para pegawai pemerintah. "Jika hingga Senin masih ada pegawai pemerintah yang belum masuk, saya akan memberikan sanksi administratif," tegas Alkatiri.

Alexandre Assis

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul = ; $foto_slide_judul =
Wajib Baca!
X