Melacak Manusia Gua di Jimbaran
Topik
TEMPO Interaktif, Denpasar: Orang-orang di Bukit Jimbaran, Nusa Dua, menyebut lubang batu itu Gua Saka. Nama itu diberikan karena adanya pertemuan stalaktit dan stalagmit yang membentuk sebuah pilar atau saka di gua yang berada di sisi timur Sungai Sama itu.
Tak jauh dari gua itu, sekitar 500 meter ke arah utara, ada sebuah gua lagi. Gua ini diberi nama Timpalan, yang dalam bahasa Bali artinya kawan. "Karena dianggap menemani Gua Saka," kata Nyoman Merta, 85 tahun, sesepuh di kawasan itu.
Akhir Juli lalu, dua gua itu mengundang perhatian kalangan arkeolog. Pasalnya, sebuah tim arkeologi Universitas Udayana menemukan benda-benda bersejarah yang terkait dengan asal-usul manusia Bali.
Penemuan benda purbakala itu terjadi setelah tim arkeologi beranggotakan sepuluh mahasiswa itu melakukan penggalian selama sepuluh hari pada 10-20 Juli lalu. Ekskavasi atau penggalian di depan Gua Saka dilakukan dengan membuat lubang berukuran 2 x 2 meter pada kedalaman 40-50 sentimeter. Penggalian tidak bisa dilakukan di dalam gua karena sebuah pura menempati gua sepanjang 12 meter dan tinggi 6 meter.
Penggalian di Gua Timpalan, yang lebih "perawan", dilakukan pada kotak seluas 2 x 2 meter sampai kedalaman 70 sentimeter. Beberapa benda yang ditemukan adalah alat berburu manusia kala itu, di antaranya potongan batu tipis berwarna kehijauan serta alat dari kerang dan tulang. Ditemukan pula pecahan-pecahan gerabah.
Rohtri Agung Bawono, ketua tim arkeologi dari Universitas Udayana, menjelaskan tulang binatang biasanya dipakai untuk membuat lubang pada benda-benda, juga sebagai mata panah. Cangkang kerang digunakan untuk menyerut, mempertajam, menghaluskan, atau mengupas sesuatu. Alat batu biasanya untuk mengupas, menyerut daging, dan membuat mata anak panah.
Tim arkeolog ini juga menemukan sisa makanan manusia purba, seperti tulang dari jenis-jenis burung serta gigi kijang dan binatang sejenis sapi dari keluarga Bovidae.
Memang belum ada kerangka manusia yang ditemukan. Tapi tim itu menyimpulkan ada kemungkinan gua itu pernah dihuni oleh moyang orang Bali.
"Kami perkirakan umur peninggalannya 30 ribu sampai 5.000 sebelum Masehi," kata Bawono. Gua itu diperkirakan terbentuk pada masa Neosin, dua juta sampai 17 juta tahun yang lalu.
Menurut Bawono, penggalian ini baru langkah awal dari rencana mereka melakukan penelitian arkeologis di wilayah Jimbaran, yang memiliki puluhan gua. Dia berharap bisa menemukan kerangka manusia purba di salah satu gua.
Bila dugaannya itu benar-benar terjadi, kerangka itu dipastikan akan menjadi penemuan kerangka yang lebih tua daripada masa kerangka Gilimanuk. Sampai saat ini kerangka Gilimanuk dianggap sebagai manusia tertua di Bali. Kerangka yang kini tersimpan di Museum Manusia Purba Situs Gilimanuk itu diperkirakan berasal dari akhir masa prasejarah dengan ciri ras Mongoloid.
"Sebab, kerangka Gilimanuk berasal dari masa manusia telah menetap dan bercocok tanam yang hitungan tahunnya jauh di belakang kebudayaan manusia yang hidup di dalam gua," kata Bawono, yang juga dosen arkeologi Universitas Udayana.
Dari sisi kebudayaan, berdasarkan alat dari tulang dan kerang yang ditemukan di gua itu, tim arkeologi memperkirakan para penghuninya hidup pada masa Mesolitikum. Masa ketika manusia mulai menghasilkan peralatan dari batu, tulang, dan kerang. Mereka tinggal di gua hingga masa Neolitikum, yakni setelah manusia mengenal teknik pembuatan gerabah.
Tanda-tanda kehidupan di dalam gua di Jimbaran sebenarnya terungkap ketika pada 1980-an pakar arkeologi Profesor R.P. Soejono melakukan ekskavasi di Gua Selonding, Jimbaran. Ketika itu mereka menyimpulkan hunian itu bersifat sedimentari atau hanya transit belaka.
Namun, Bawono dan mahasiswanya menyatakan penemuan di Gua Sake dan Timpalan kemungkinan besar adalah hunian tetap. Alasannya, tanda-tanda kebudayaan kedua gua itu berbeda dengan Gua Selonding.
Penemuan gua sebagai tempat hunian juga terjadi pada 2000 di Nusa Penida oleh tim Balai Arkeologi Denpasar. Tepatnya di kawasan Gua Gede. Tapi Bawono yakin, hunian di gua-gua Jimbaran lebih tua. "Dilihat dari pola migrasi manusia, yang pasti ke pulau induk yang lebih besar (Bali), baru ke pulau yang kecil (Nusa Penida)," katanya.
Semua prakiraan itu tentu masih harus menunggu pembuktian lebih lanjut. Penentuan secara pasti usia benda-benda peninggalan purba itu harus melalui carbon dating. Namun, karena ketiadaan dana, tes itu belum bisa dilakukan.
Di Indonesia tes ini hanya bisa dilakukan dengan menggunakan fasilitas unsur C-14 yang dimiliki Badan Tenaga Atom Nasional di Yogyakarta. Carbon dating berdasarkan prinsip segala pelapukan benda akan meninggalkan unsur karbon. "Pelapukan pada gerabah paling gampang dicek karena ada proses pembakaran," Bawono menjelaskan.
Repotnya, para arkeolog seperti harus berpacu dengan waktu karena kawasan Jimbaran telah berkembang sebagai kawasan wisata dan perumahan. Lahan di atas Gua Saka dan Timpalan, misalnya, kini telah menjadi lahan perumahan dosen Universitas Udayana. Di pihak lain, penelitian arkeologis masih mengalami banyak kendala, terutama dari segi pendanaan dan fasilitas teknologinya.
ROFIQI HASAN
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Kantor Harian Radar Bone Dirusak
- Fathanah: Kekuatanku Sekarang Cuma Tuhan dan Sefti
- Nyalon DPD, Istri Roy Suryo Saingi Ratu Hemas?
- Selingkuh, Begini Fathanah Minta Maaf
- Lima Penyakit DPR yang Bikin Publik 'Ilfeel'
- Peneliti Remaja Indonesia Borong 3 Medali Emas
- KPK Diminta Usut Dugaan Korupsi di Ditjen Kebudayaan













