Kebijakan Energi Alternatif Membingungkan Pengusaha
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Kalangan pengusaha menilai kebijakan energi alternatif pemerintah membingungkan. Energi alternatif yang akan digunakan berganti-ganti tanpa melewati proses uji coba sebelumnya.
“Dulu rencananya mengganti gas ke briket batu bara. Ini belum terealisasi, sudah diganti lagi dengan gas ke biofuel,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Thomas Darmawan kepada Tempo di Jakarta, Minggu malam.
Thomas menilai, pemerintah ragu dalam menentukan energi alternatif. Padahal, dengan bahan bakar alternatif yang lebih murah daya saing industri kecil dan menengah sektor makanan otomatis meningkat. Dengan menggunakan kompor briket bata bara, kata dia, “Industri besar saja bisa berhemat Rp 600 juta per bulan. Apalagi industri kecil.”
Menurut dia, pemerintah belum membantu industri kecil makanan untuk meningkatkan ekspor. Data GAPMMI menunjukkan, pada 2004 ekspor makanan mencapai US$ 1,4 miliar. Nilai itu meningkat pada 2005 menjadi US$ 1,8 miliar.
Thomas optimistis, pada 2006 angka tersebut bisa menembus US$ 2 miliar jika pemerintah sukses mendorong kinerja produk makanan hasil produksi industri kecil dan menengah. "Untuk produsen besar daya saingnya sudah cukup kuat,” katanya
FERY FIRMANSYAH





