Kondisi Beras Daerah Dilaporkan Dalam Dua Minggu


TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia diminta melaporkan kondisi perberasan di wilayahnya paling lambat dua pekan mendatang.

“Paling lambat awal minggu kedua September sudah dilaporkan, “ kata Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bayu Krisnamurthi di Bandung, hari ini.
 
Bayu menjelaskan, laporan ini diperlukan untuk mengetahui daerah mana saja yang mengalami surplus beras dan daerah yang membutuhkan operasi pasar.
 
Dia mengaku sudah mengirimkan surat kepada seluruh gubernur. Isinya, permintaan inventarisasi jumlah beras yang tersedia serta kebutuhan cadangan beras di daerah.
 
Lebih lanjut Bayu menjelaskan, peningkatan harga beras dalam beberapa bulan terakhir ini telah memicu kenaikan permintaan operasi beras. Bahkan, hingga kemarin permintaan itu sudah datang dari sembilan provinsi.
 
Namun, akibat permintaan operasi beras tersebut, cadangan beras pemerintah yang dikelola Perusahaan Umum Bulog dipastikan akan tersedot cukup banyak. “Makanya fokus perhatian kami kepada penguatan cadangan beras pemerintah, “ kata Bayu.
 
Ironisnya, Bulog kemungkinan besar akan mengalami kesulitan membeli beras dari dalam negeri. Pasalnya, harga beras yang ada sekarang sudah jauh diatas Harga Pembelian Pemerintah Rp 3.550 per kilogram.
 
Untuk mengantisipasi itu, rapat koordinasi perberasan mengusulkan agar pemerintah menyediakan dana khusus untuk membeli beras yang harganya diatas patokan. Namun, besaran dana ini masih akan menunggu laporan kondisi beras di daerah dan pembahasan dengan pihak terkait.
 
Besaran suntikan dana khusus ini, kata Bayu, dihitung berdasarkan selisih harga beras di pasar dengan harga patokan. Selain itu, ongkos angkut dari daerah surplus juga ikut diperhitungkan.
 
Pakar Ekonomi Pertanian, Husein Sawit mengaku pesimistis dengan kebijakan dana khusus ini. Pasalnya, ketentuan ini akan sangat sulit direalisasikan di lapangan.
 
Menurut dia, pemerintah akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam menutup perbedaan harga beras di pasar dengan harga patokan. Padahal, selisih harga tersebut sangat sulit diramalkan.

EWO RASWA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X