Akhir Tahun, Indeks Bisa Capai Rekor Baru


Grafis Terkait

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Kalangan analis pasar modal memprediksikan, indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu mencatat rekor baru di akhir tahun ini apabila sentimen positif terus mewarnai bursa.

Sejumlah sentimen positif telah mewarnai kegiatan perekonomian belakangan ini. Laporan Badan Pusat Statistik, misalnya, baru saja menyebutkan inflasi Agustus 0,33 persen, menurun dibandingkan tekanan di Juli sebesar 0,45 persen. Sementara, laju inflasi Agustus secara year on year 14,90 persen, juga menurun dibandingkan inflasi Juli year on year 15,15 persen.

Kondisi ini diyakini para analis akan memberi peluang Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat suku bunga BI Rate dari level saat ini 11,75 persen. Kalangan pelaku pasar termasuk perbankan, berharap bank sentral hari ini akan menurunkan kembali BI Rate sebanyak 25-50 basis poin. Ekspektasi ini pun telah mengangkat indeks 25 poin menjadi 1469,559 pada penutupan penutupan perdagangan kemarin.

Analis saham PT Kuo Capital Raharja, Edwin Sinaga mengatakan, indeks bakal mampu melewati rekor 11 Mei lalu (di level 1553, 062) apabila sentimen positif terus berlanjut hingga akhir tahun. "Minimal di level 1550 pada akhir tahun," kata Edwin di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, saham perbankan yang ada di garis kedua yang akan terpengaruh sentimen positif ini. Sebab, beberapa saham perbankan dinilai memiliki kinerja saham yang secara fundamental telah tinggi, sehingga pertumbuhannya akan lambat. Tapi, harga saham PT Bank Mandiri Tbk. dan PT Bank Niaga Tbk. diproyeksikan terangkat.

Namun, menurut Kepala Riset PT Kresna Securitas, Adrian Rusmana, hanya sekitar 30-40 saham yang akan terpengaruh penurunan inflasi dan kemungkinan penurunan BI Rate. Saham-saham itu akan diburu investor karena memiliki likuiditas tinggi.

Kenaikan indeks, kata dia, kemungkinan hanya jangka pendek. Sebab, banyak saham memiliki kinerja yang secara fundamental sudah tinggi. Akibatnya, saham-saham itu bakal sulit untuk naik lagi. Selain itu, membaiknya kinerja emiten tahun ini pun bukan karena kinerja produksi, melainkan kenaikan harga komoditas. "Sulit memprediksi pergerakan saham dalam jangka panjang," kata Adrian.

Kepala Ekonom PT Bank International Indonesia Tbk. Ferry Latuhihin mengatakan, suku bunga diharapkan terus turun hingga menjadi 10 persen pada akhir tahun. "Harapannya, besok (hari ini) BI menurunkan 25-50 basis poin," katanya.

Dia menambahkan, penurunan bunga BI Rate tak akan memberikan pengaruh pembalikan terhadap nilai rupiah. "Hubungannya asimetrik," kata dia. "Suku bunga dolar yang menentukan nilai rupiah."

YULIAWATI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X