Mengelola Bank dengan Teknologi Informasi
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dalam bisnis bank, kepercayaan nasabah merupakan aset terpenting. Agar nasabah senang, pelayanan terbaik harus diberikan. Citigroup tahu benar hal itu. Tak mengherankan kalau investasi dalam teknologi informasi (TI) perusahaan ini tidak tanggung-tanggung. Menurut Umang Moondra, Director Operations & Technology Group Citigroup, alokasi anggaran untuk TI mencapai 15 persen dari total anggaran perusahaan.
Salah satu contoh penerapan TI Citigroup adalah online credit card application. Aplikasi komputer berbasis Internet ini memungkinkan calon nasabah mengajukan permohonan kartu kredit baru hanya dengan mengunjungi situs web Citibank dan mengisi formulir yang tersedia. Persetujuan diperoleh dalam 60 menit. "Ini merupakan yang pertama diterapkan di Indonesia," ujar Umang bangga.
TI juga berperan dalam kenyamanan nasabah saat membayar tagihan. Melalui aplikasi pembayaran online real time, nasabah yang memiliki rekening di Citibank dapat membayar tagihan kartu kredit dari 11 ribu anjungan tunai mandiri mitra Citigroup di Indonesia. Pembayaran dibukukan saat itu juga.
Metode pembayaran lainnya yang telah diterapkan Citigroup adalah penggunaan formulir online berformat photoshop document file (PDF) dari Adobe. Untuk meningkatkan keamanan, transaksi ini dipadukan dengan teknologi pemindaian radio frequency identification.
Tidak cuma untuk meningkatkan mutu layanan bagi nasabah, TI juga dimanfaatkan oleh Citigroup untuk efisiensi dan produktivitas operasi. Para karyawan, contohnya, mengandalkan aplikasi berbasis web, yang disebut e-Workplace. Dalam e-Workplace terdapat banyak aplikasi, misalnya Resource Reservation--memungkinkan karyawan memesan mobil, ruang rapat, proyektor, atau apa saja melalui intranet--serta Employee Portal--berisi segala sesuatu yang terkait dengan personel, mulai biodata, riwayat pekerjaan, job desk, hingga riwayat pelatihan.
Pemanfaatan TI juga tidak berhenti pada aplikasi yang ada. Demi tujuan mengembangkan bisnis, TI dimutakhirkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya. Contohnya, saat ini sedang dikembangkan teknologi original character recognition, yang bisa mengenali tulisan tangan nasabah pada formulir penyetoran. "Ini adalah inovasi lokal dan saat ini dalam tahap pengujian selama dua-tiga bulan," Umang menjelaskan.
Citigroup tidak mengatur semua itu tanpa referensi yang pasti. Sejak enam tahun silam, mereka membuat cetak biru kebijakan Citigroup IT Management Policy. "Kebijakan ini menjadi dasar dari pengelolaan TI dan bagian dari suatu proses peningkatan yang berkesinambungan," ujar Umang.
Pengaturan TI Citigroup itu mendapat pengakuan dari Warta Ekonomi Indonesia E-Company Awards 2006 sebagai yang terbaik di Indonesia melalui penghargaan special award for best IT governance akhir Mei lalu. Selain itu, untuk sektor perbankan, Citibank menjadi ketiga terbaik setelah Bank BCA dan Bank Niaga.
Bagi Citigroup, kata Umang, pemanfaatan TI bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Selain itu, TI dan bisnis adalah setara dan saling tergantung. "TI yang ada ditambah keahlian dan sumber daya dapat mengendalikan bisnis dan memantau peluang bisnis. Sebaliknya, peluang bisnis, model bisnis, dan pendanaan dapat dipakai untuk mengatur penerapan dan memantau perkembangan TI," tutur dia.
Manfaat itu sudah dibuktikan Citigroup dalam tiga tahun ini. Dengan penerapan TI--di antaranya memakai 86 aplikasi komputer, jumlah komputer melebihi jumlah karyawan (1,2 : 1), 70 persen karyawan memiliki account e-mail, dan seluruh peranti lunak berlisensi--telah membuat pertumbuhan rata-rata nasabah online per tahun mencapai 35 persen dan transaksi rata-rata per tahun mencapai 30 persen.
Selain itu, "Business corporate and investment banking meningkat lebih dari 12 persen dan penurunan biaya proses 12 persen," kata Umang.
Dody Hidayat


