Menjadikan 3G Sahabat Sehari-hari
TEMPO Interaktif, Jakarta: TIGA bulan lalu saya sempat menulis sebuah posting di blog. Judulnya: "Five 3G operators, none is operating". Intinya, saya menggambarkan betapa Indonesia saat itu sudah memiliki lima operator pemegang lisensi layanan telekomunikasi generasi ketiga alias 3G, tapi belum satupun yang sudah meluncurkan layanan komersialnya.
Saat posting itu ditulis, sebetulnya sudah tiga operator besar, PT Telkomsel, PT Indosat dan PT Excelcom sudah melakukan uji-coba layanannya di Jakarta dan beberapa kota layanannya. Bahkan satu di antaranya sempat unjuk-gigi menggunakan jaringan 3G-nya untuk berkomunikasi video dengan koleganya yang berada di Kuala Lumpur, Malaysia.
Sementara dua operator pemegang lisensi lainnya, Cyber Access Communications dan PT Natrindo Telepon Selular yang mengantongi lisensi lebih dulu, malah masih dalam persiapan teknis dan belum melakukan uji-coba terbuka sama sekali.
Sebenarnya itu sebuah kabar baik: ihwal persiapan dan uji-coba tersebut menunjukkan betapa Indonesia segera menikmati layanan 3G, sebuah layanan telekomunikasi berkecepatan tinggi dan akses nirkabel berpita lebar berbasis teknologi W-CDMA (Wideband CDMA) alias UMTS (Universal Mobile Telecommunications System).
Namun lama ditunggu, layanan tersebut tak juga ditawarkan. Akibatnya, istilah 3G seolah hanya sebatas wacana dan angan-angan.
Nah, ketika pada bulan September ini, Telkomsel dan Excelcomindo akhirnya meluncurkan layanan 3G komersialnya, saya hanya bisa tersenyum getir: "Yah, udah telat banget. Gatalnya udah hampir tiga tahun lalu, digaruknya baru sekarang!"
Ya, sebagai salah seorang pengguna layanan seluler, saya tentu berhak kecewa. Ancang-ancang Indonesia untuk melompat ke "kolam" 3G komersial kelewat lama. Saya masih ingat, telepon seluler 3G pertama, Nokia 7600, yang desainnya mirip ketupat itu diluncurkan di Indonesia pada Februari 2004. Sementara layanan 3G di Tanah Air baru diluncurkan September 2006!
Dalam rentang waktu itu, baik Nokia maupun vendor ponsel lainnya seperti Motorola, Sony Ericsson, Samsung juga berlomba membanjiri pasar Indonesia dengan sederetan portofolio ponsel berkemampuan 3G-nya.
Di sinilah uniknya: Walaupun jaringan 3G belum ada, ponsel 3G tetap saja diminati konsumen Indonesia -- konsumen yang dikenal sangat responsif terhadap teknologi handset yang baru.
Sebuah fenomena yang kontan mengandaskan anggapan sejumlah kalangan yang pesimis bahwa ponsel 3G tak akan diterima oleh konsumen Indonesia. Jelaslag sudah, bahwa yang bermasalah ternyata bukan konsumennya, tetapi operatornya.
Saya kecewa dan penasaran soal ini karena dilandasi oleh satu hal: saya terlalu berharap terhadap layanan dan teknologinya.
Bagi saya jelas sekali: 3G adalah sebuah solusi yang mumpuni dalam menghadirkan layanan telekomunikasi nirkabel berkemampuan tinggi bagi konsumen.
3G akan menjadi pendorong utama terciptanya apa yang disebut ubiquitous society di Indonesia: di mana layanan telekomunikasi teranyar bisa dinikmati secara luas dan bisa dinikmati sehari-hari. Mulai dari berkomunikasi video call hingga akses data berpita lega bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja -- dan semuanya bisa dilakukan dalam genggaman!
Bukankah itu lompatan besar bagi Indonesia dalam hal teknologi informasi dan telekomunikasi?
Memang, tak bisa dinafikan, selain menawarkan peluang, 3G juga mengundang berbagai tantangan yang harus ditaklukkan. Apa peluangnya dan bagaimana tantangannya, coba kita telisik satu per satu.
Peluang
Jaringan 3G WCDMA memang menawarkan layanan dan aplikasi menarik karena berbasis pita lebar dan mengandalkan kecepatan tinggi.
Teknologi 3G datang menawarkan kecepatan akases sampai 100 kali lipat GPRS (general packet radio service) yakni hingga 384 kbps (kilobyte per second). Bahkan kecepatan itu bisa berlipat ganda hingga 2 mbps bila sang operator juga menawarkan "bonus" layanan High Speed Downlink Packet Access (HSDPA).
Nah, inilah layanan-layanan utama yang bisa ditawarkan dengan teknologi 3G:
Video Call: Ini adalah layanan primadona 3G. Dua orang pengguna bisa berbicara sambil menatap wajah lawan bicara di layar ponsel.
Teknologi ini bisa dikembangkan antara lain untuk:
* Layanan konsultasi kesehatan jarak jauh. Seorang dokter yang sedang berada di luar negeri bisa tetap berkomunikasi dengan pasiennya secara reguler. Atau seorang dokter ahli masih tetap bisa memimpin sebuah operasi pembedahan meskipun pada saat yang sama sedang berada di negara lain.
* Layanan jasa konsumen berbasis video telephony. Ketimbang hanya melayani konsumen dengan tele-center berbasis telepon biasa, sudah saatnya perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor jasa mulai memberikan opsi layanan kontak konsumen dengan menggunakan telepon video. Komunikasi dengan konsumen akan berlangsung dengan akrab dan personal. Perusahaan yang bersangutan tinggal menyediakan nomor yang bisa dihubungi konsumen untuk kepentingan video call dengan staf layanan konsumen.
Real-Time Video Sharing: Seorang pengguna ponsel 3G bisa mengirimkan rekaman video real-time ke ponsel tujuan sambil tetap melakukan percakapan telepon.
Teknologi ini bisa digunakan untuk:
* Liputan langsung jurnalis televisi dari lapangan. Operator ataupun perusahaan penyedia content bisa menawarkan layanan alih-daya (out-sourcing) reportase lapangan kepada sejumlah stasiun televisi. Hanya dengan menggunakan jaringan 3G, seorang reporter bisa mengirimkan rekaman video terbarunya secara cepat sambil tetap melaporkan hasil pandangan matanya sehingga bisa ditayangkan secara langsung.
* Berbagi kebahagiaan di antara keluarga. Peristiwa kelahiran anak atau wisuda anak adalah momentum penting yang harus dibagi ke seluruh anggota keluarga maupun kolega. Sambil mengirimkan rekaman pertama bayi yang sedang dalam pelukan ibunya, si ayah bisa menceritakan suasana kelahiran tersebut lewat video call.
VoIP (Voice over Internet Protocol): Percakapan telepon via Internet bisa dilakukan dengan mudah di jaringan 3G mengingat kapasitas pitanya yang besar. Ini merupakan revolusi besar dalam dunia telekomunikasi di mana komunikasi suara bisa dilakukan dengan murah meriah karena memanfaatkan protokol Internet.
Peluang yang bisa dimanfaatkan:
* Pengguna ponsel 3G bisa menikmati layanan telepon internasional gratis seperti yang disediakan Skype. Artinya, pengguna bisa menelepon ke mana saja di dunia: tak perlu bayar biaya Sambungan Lansung Internasional (SLI) seperti yang selama ini terjadi, tetapi cukup bayar akses jaringan 3G yang digunakan.
* Sarana komunikasi paling efisien bagi pengusaha ekspor-impor. Kalangan pengusaha yang bergerak di bidang ekspor impor paling diuntungkan dengan pemanfaatkan VoIP di jaringan 3G ini: biaya telepon SLI jadi terpangkas sangat signifikan dan bisnis pun akan berjalan dengan memuaskan.
Multiplayer Games: Bermain game online di ponsel dengan para penantang dari berbagai kota atau negara bisa dilakukan menggunakan jaringan 3G.
* Peluang bagi produsen-produsen games lokal untuk membuat semakin banyak content permainan digital dan menawarkannya via operator. Games-games lokal dengan tema-tema lokal dan aktual jelas merupakan daya tarik sendiri bagi penggemar games pengguna ponsel 3G.
* Layanan kuis online. Acara kuis online yang melibatkan sejumlah peserta yang tersebar dari berbagai kota sangat mungkin dilakukan. Kuis dengan iming-iming hadiah tertentu akan membuat layanan semacam ini jadi diminati.
Browsing: Jika di jaringan GPRS saja pengguna ponsel bisa melakukan browsing Internet, tentu di jaringan 3G bisa jauh lebih mempesona dan memuaskan.
* Peluang bagi penyedia content lokal untuk menawarkan layanan-layanan menarik berbasis Web yang bisa dengan mudah diakses lewat ponsel 3G. Info hiburan, jadwal penerbangan, indeks saham, dan lain-lain bisa ditawarkan sedemikian rupa.
* Portal berita lokal akan kembali bergairah. Jika selama ini masalah akses Internet masih dikaitkan dengan ketersediaan komputer dan bandwidth Internet, sekarang era 3G membuat "effort" untuk masuk ke Internet semakin ringkas: hanya dengan dua-tiga kali klik di browser ponsel 3G, halaman-halaman Web sudah berada di depan mata dengan kecepatan loading yang tinggi.
Audio & Video streaming: Streaming gambar video dan audio merupakan metode yang efisien: tidak memakan space yang besar, tetapi tetap bisa menikmati gambar dan alunan musik di genggaman dengan nyaman.
* Produsen-produsen film nasional bisa menawarkan layanan video streaming film-film terbarunya di ponsel 3G. Tak perlu menunggu beberapa bulan setelah filmnya berada di bioskop, layanan mobile movie berbasis video streaming bisa langsung ditawarkan dan tentu bisa segera menggaet keuntungan dari situs.
* Industri rekaman juga bisa menawarkan hit-hit terbarunya lewat fasilitas audio streaming di ponsel 3G. Bisa ada beberapa opsi: hanya sekali dengar, bisa langsung disimpan atau boleh dibagi ke beberapa orang teman.
Content download: Pengunduhan beraneka isi layanan sangat dimungkinkan dengan adanya jaringan 3G.
* Operator dan penyedia content bisa menawarkan berbagai layanan unduh seperti musik, video, foto atau dokumen lainnya.
* Software dan program aplikasi bisa dengan mudah ditawarkan. Pengguna tinggal bayar dan segera bisa mengunduh program aplikasi atau peranti lunak yang diinginkannya ke ponsel.
Hambatan dan Tantangan
Lalu apa hambatannya? Bagi kalangan operator, langkah menuju 3G di Indonesia sebenarnya bukanlah jalan yang lempang. Ada sejumlah hambatan yang menghadang.
Dari sisi teknologi dan content:
Kesemrawutan alokasi frekuensi yang terjadi. Frekuensi 1900 MHz yang disudah dialokasikan untuk layanan 3G W-CDMA, untuk wilayah Jakarta malah dinaungi dua layanan CDMA2000 1x -- meskipun akhirnya dikoreksi kembali, tetapi proses migrasinya tetap membutuhkan waktu.
* Perluasan jaringan. Sebagai negara kepulauan dan penduduk yang padat, Indonesia adalah pasar yang sangat luas. Tak ada jalan lain, operator yang ingin layanannya bisa dinikmati secara luas harus terus memperluas jangkauan jaringannya.
* Content yang beragam. Tidak mudah menciptakan dan menawarkan content yang berkualitas. Tentu saja operator harus bekerjasama dengan para penyedia content untuk menawarkan layanan ini. Ingat, tak ada content, tak ada 3G!
Dari sisi pengguna:
* Edukasi pengguna. Tantangan yang paling berat bagi operator justru dalam mengedukasi pengguna layanan seluler GSM yang kini jumlahnya diperkirakan sudah mencapai hampir 50 juta. Pasalnya, karakter pengguna seluler di Indonesia masih didominasi oleh penggunaan layanan pesan pendek (SMS) dan suara.
* Kecanggihan teknologi 3G W-CDMA tentu akan sia-sia kalau hanya digunakan untuk SMS dan percakapan telepon. Di sinilah diperlukan sosialisasi dan edukasi dari operator untuk meyakinkan pengguna seluler bahwa layanan bernilai tambah seperti transfer data dan multimedia adalah sesuatu yang pantas dan perlu dinikmati.
Dari sisi vendor:
Soal penetrasi handset 3G mungkin tak terlalu mengkhawatirkan. Buktinya, meskipun belum ada layanan 3G yang dibuka secara komersial, ponsel-ponsel berkemampuan 3G yang memang kaya fitur justru laris manis di Indonesia.
Namun, berhubung semakin banyaknya vendor yang menawarkan ponsel 3G di pasar Indonesia, tentu para vendor ini harus jeli melihat karakter pengguna Indonesia yang sangat dinamis dalam hal selera dan kebutuhan. Semakin banyak inovasi ponsel yang ditawarkan, semakin besar peluang konsumen akan tetap setia.
Akar persoalannya tetap saja merupakan sebuah tugas berat yang harus dipikul operator: Bagaimana caranya mendorong para pengguna ponsel canggih itu agar mau merogoh koceknya untuk menikmati layanan bernilai tambah seperti layanan 3G.
Para konsumen itu harus diyakinkan bahwa 3G adalah teknologi yang akan membantu dan memudahkan mereka dalam bekerja, berkomunikasi dan menikmati hiburan sehari-hari. 3G bisa menjadi sahabat mereka sehari-hari.
Selamat menikmati layanan 3G di negeri tercinta dan sekaligus bergabung dengan lebih 40 juta pengguna 3G W-CDMA di dunia!
Budi Putra