PBB Diminta Beri Sanksi Korea Utara
TEMPO Interaktif, New York: Negara-negara adikuasa kemarin mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menekan dan memberi sanksi kepada Korea Utara agar negara komunis itu membatalkan rencana uji coba pertama bom nuklirnya pada pekan ini.
Sejumlah media menyebutkan bahwa uji coba ada kemungkinan akan dilakukan pada Ahad nanti, yang bertepatan dengan hari peringatan diangkatnya Jenderal Kim Jong-ill sebagai Ketua Partai Buruh Korea pada 1997.
Para ahli Dewan Keamanan PBB telah menyusun rancangan pernyataan bersama soal nuklir Pyongyang itu dan diharapkan para anggota dewan segera menyetujui. Namun, rancangan itu tak secara jelas menyebut soal sanksi, sehingga lebih lemah daripada permintaan Amerika Serikat dan Jepang.
Jepang dan Amerika mendesak agar resolusi itu memberi sanksi, termasuk embargo senjata dan berbagai sanksi ekonomi serta perdagangan lain, di bawah Bab Ketujuh Piagam PBB--yang mengizinkan sanksi atau bahkan aksi militer bagi hal-hal yang mengancam perdamaian dan keamanan internasional.
Uni Eropa mendukung pemberian sanksi jika negara komunis itu benar-benar melakukan uji nuklir. "Jika itu terjadi, tanpa ragu beberapa keputusan akan diambil Dewan Keamanan dan Uni Eropa akan mendukungnya," kata Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana.
Sebuah pesawat militer Amerika Serikat yang dilengkapi alat pemantau dan pendeteksi uji nuklir dilaporkan telah meninggalkan pangkalan udara Amerika di Okinawa, Jepang, menuju Semenanjung Korea. Pentagon tak membenarkan ataupun membantah soal ini.
Sementara itu, kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, melaporkan bahwa Jenderal Kim telah bertemu dengan para pejabat tinggi pemerintahnya dan meminta mereka meningkatkan pertahanan nasional. "Berjuanglah demi hidup kita!" teriaknya kepada mereka.
Televisi nasional Korea Utara menayangkan rekaman yang menunjukkan Jenderal Kim berpawai dan melambaikan tangan kepada kerumunan sekitar 500 tentaranya. Kim kemudian berpose untuk difoto bersama para komandannya di depan makam besar di Pyongyang tempat bersemayam ayahnya dan pemimpin besar Korea, Kim Il-sung.
Pyongyang, yang tahun lalu mengumumkan telah memiliki senjata nuklir, ngeloyor keluar dari perundingan enam negara (Korea Utara dan Selatan, Rusia, Cina, Jepang, serta Amerika) soal penghentian program nuklirnya pada November lalu. Ini sebagai protes atas sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika.
Tak lama sesudah menggelar uji coba beberapa misil jarak menengah dan jauh pada Juli lalu, Jenderal Kim menyatakan akan menolak kompromi apa pun dan akan menggelar perang habis-habisan jika Amerika Serikat dan Jepang memaksa PBB memberi sanksi baru kepada Pyongyang.
l AP | AFP | IWANK
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Lepas Empat Istrinya, Eyang Subur Tak Perlu Cerai
- Djokovic Bisa Jegal Nadal di Semifinal
- Saksi Penyerangan Cebongan Tak Mau Beri Keterangan
- MI5 Dituding Coba Rekrut Tersangka Kasus Woolwich
- Bupati Aceh Utara Dianggap Berpikiran Sempit
- FOTO: Pamer Aksi Bintang Dunia di Singapura
- Tangkal Virus Corona, Kemenkes Siapkan 8 Program
Berita Utama Dunia
- Bos IMF Jadi Saksi Diawasi dalam Kasus Arbitrase
- Pemilu Iran, Inilah Profil 8 Calon Presiden
- Jembatan Antar-Pulau di Washington Ambruk
- Pengacara Kirim Petisi ke Pentagon Soal Guantanamo
- Gara-gara Pisang, Guru Ini Diskors
- Cameron: Serangan di London Tak Terkait Islam
- Kakek 80 Tahun Sukses Taklukkan Everest














