Korban Pengeroyokan Trauma
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Peristiwa pemukulan pada Selasa (3/10) lalu masih membekas pada diri Gunawan Sah, 23 tahun. Pria ini adalah pengemudi mikrolet jurusan Kampung Rambutan-Cisalak yang menjadi korban pengeroyokan.
Bukan saja menyisakan trauma, namun kain kasa putih juga masih melekat di bawah mata kiri pemuda berperawakan kecil itu. Wajahnya juga masih menampakkan gurat-gurat kesedihan. Sore hari ini dia mengadukan nasibnya ke kantor Tempo Interaktif.
Malam itu sekitar pukul 22.00 WIB, Gunawan bercerita, dia mengemudikan angkutan umum nomor 41 jurusan Cisalak-Kampung Rambutan. Memasuki Terminal Kampung Rambutan, enam orang sopir angkutan mendekatinya. Salah satunya adalah Budi, seorang pria yang mengaku sakit hati karena Gunawan telah merebut penumpang. Sejurus kemudian, pukulan dan tendangan mendarat di badannya.
Usahanya untuk mendapat keadilan dengan melaporkan kejadian nahas itu ke Kepolisian Sektor Ciracas, justru berbuah kekecewaan. “Pelakunya (Budi) dilepas,” ungkapnya. Bukan itu saja, lanjutnya, polisi juga memintanya untuk menangkap sendiri beberapa nama yang disebut Budi sebagai pelaku.
Namun perannya sebagai tulang punggung keluarga, mendorong Gunawan untuk tetap bekerja sebagai sopir angkutan. Sebuah pekerjaan yang dilakoninya sejak duduk di bangku kelas 2 SMA. Meskipun, gangguan dari sopir tetap diterimanya usai kejadian itu.
“Sebenarnya saya takut, pikiran nggak tenang,” ujar Gunawan lirih sambil menunduk lesu. Ia mengaku takut kejadian serupa akan berulang lagi. Namun, dengan menjadi sopir Gunawan memperoleh pendapatan sekitar Rp 30 ribu setiap harinya. Uang itu dapat ia gunakan untuk menjaga agar dapur rumah di Kelurahan Ciracas RT 10/09 no 36 Ciracas, Jakarta Timur tetap mengepul.
Di rumah itu Gunawan tinggal bersama kedua orang tuanya dan dua adik lelakinya. Ayahnya hanyalah seorang sopir ojek yang karena kondisi kesehatan, tidak mampu bekerja setiap hari. Sedangkan dua orang adik lelakinya masih membutuhkan biaya untuk menyelesaikan sekolah.
Menjadi sopir bukanlah pekerjaan yang dicita-citakan pemuda kelahiran tanggal 19 Agustus tahun 1983 silam itu. Karena itulah, sambil bekerja ia juga meneruskan pendidikan hingga lulus D1 Jurusan Komputer sebuah lembaga pendidikan tinggi di Kota Depok. “Saya pengen bekerja sesuai pendidikan saya, tapi melamar pekerjaan itu kan juga butuh uang,” ucap dia. Jadi meski takut, sementara ia akan tetap bekerja sebagai sopir angkutan.
INDRIANI
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Ngos-ngosan Naik Tangga? Performa Seksual Jelek
- Mendagri Siap Copot Bupati Theddy Tengko
- Kejagung Tahan 2 Tersangka Korupsi Kredit BJB
- Surabaya Butuh Rp 10 M buat Tutup Lokalisasi Dolly
- Ngaku Anak Kapolri, Wanita Ini Dipenjara
- Twitter Dipo Soal Franz Magnis Dinilai Tak Pantas
- Tunisia Tahan Amina Tyler, Demonstran Bugil













