Loro Horta Tak Ingin Jadi Bawahan Ayah
TEMPO Interaktif, Dili: Nama? "Maubere Lorosae". Petugas Imigrasi Timor Leste mengernyitkan dahi, menatap ragu pria kelahiran Spanyol ini. Setelah yakin yang ditanya serius, si petugas pun senang dan bangga. Inilah sepenggal kisah Maubere Lorosae da Silva Horta, nama lengkap putra Perdana Menteri Jose Ramos Horta, saat berada di tanah airnya.
Maubere dan Lorosae adalah kata bahasa Tetun. Di masa penjajahan Portugal, maubere, yang berarti petani, punya konotasi rendah. Saat bangkitnya gerakan kemerdekaan pada 1970-an, Ramos Horta mempopulerkan kata itu sebagai idiom perjuangan rakyat. Kini orang Timor Leste bangga mengidentifikasi diri sebagai maubere. Lorosae? Kata yang berarti matahari terbit ini adalah nama asli negeri Timor Leste.
Sepertinya harapan yang disandarkan Ramos Horta pada nama itu tak meleset. Maubere Lorosae, 27 tahun, yang lebih suka dipanggil Loro Horta, tengah giat mempersiapkan diri agar bisa mengabdi untuk bangsanya.
Juli lalu, dia meraih gelar master pada Institut Studi Pertahanan dan Strategis, Nanyang Technology University, Singapura. Kini dia menjalani kursus 10 bulan bidang keamanan nasional di Universitas Pertahanan Nasional, Beijing. Secara resmi, dia bukan pegawai pemerintah. Namun, pendidikannya di Singapura dan Cina disponsori Departemen Pertahanan Timor Leste.
Sepulang dari Cina, Loro Horta berniat meneruskan studi tingkat doktor atas biaya sendiri. Baru kemudian, kata dia dalam percakapan dengan kantor berita AFP belum lama ini, dia akan pulang "memenuhi kewajiban moral... memberikan sumbangsih" kepada negara.
Menjadi Menteri Pertahanan Timor Leste? "Itu cara yang sangat baik untuk memulai membayar utang," jawabnya. Tapi dia menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah apa tugas yang akan diberikan. "Saya siap," ujar putra pasangan Ramos Horta dan Anna Pessoa (kini Menteri Negara Urusan Administrasi Internal Timor Leste) itu.
Hanya, Loro Horta, yang menikahi perempuan Thailand, Soraya Simsiri, pada Agustus 2004--putra pertama mereka lahir tahun ini--lebih suka tidak bekerja dalam pemerintahan ayahnya. "Saya tak ingin bekerja di bawah dia," ujarnya. Lo, kok? Rupanya, pria yang dibesarkan di Mozambik itu merasa dia dan ayahnya sama-sama punya watak buruk, sama-sama keras.
AFP | THE NATION | YANTO MUSTHOFA
Komentar (0)
Berita Terkait
Foto Terbaru
Top Stories
Berita Utama Dunia
- Snowden Bantah Jadi Mata-Mata Cina
- Inilah Akun Twitter Presiden Iran Terpilih
- Ditaruh di Ban, Penyelundupan Kaki Beruang Gagal
- Hassan Rouhani Akan Bawa Iran Lebih 'Bersahabat'
- Warga AS-Kuba Bakal Bisa Saling Berkirim Surat
- Ternyata NSA Juga Mata-matai Dmitry Medvedev
- Anwar Ibrahim Pastikan Gelar Demo Besar


