Telkom Berencana Memecah Saham
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. mempertimbangkan rencana memecah nilai nominal saham atau stock split. Tujuannya agar harga saham lebih murah dan bisa dijangkau oleh investor retail atau individu. "Kami mencoba kemungkinan stock split," kata Direktur Keuangan Telkom Rinaldi Firmansyah.
Dia mengatakan saat ini investor retail hanya mengikuti pergerakan harga saham Telkom karena saham perusahaan telekomunikasi itu lebih banyak dikuasai investor institusi. Jika nilai nominal saham dipecah, hal itu membawa efek positif bagi investor retail, karena penyebaran saham Telkom lebih merata dan transaksinya kian marak (likuid).
Tapi Rinaldi mengaku belum ada pembicaraan di level manajemen terkait dengan rencana aksi korporasi itu. Salah satu kendalanya, nilai kapitalisasi pasar Telkom sekarang sudah sangat tinggi. Sebelumnya, perusahaan pelat merah itu pernah melakukan pemecahan nilai saham pada September 2004, dari harga Rp 8.600-8.800 menjadi Rp 4.300 per lembar.
Dua tahun berselang, harga saham Telkom terus naik, bahkan lebih tinggi dibanding sebelum stock split. Pada penutupan perdagangan di Bursa Jakarta kemarin, harga sahamnya mencapai Rp 9.600.
Analis PT Rekapital Sekuritas, Satrio Utomo, mengatakan beberapa investor menginginkan Telkom kembali memecah nilai nominal saham. Sekarang volume perdagangan sahamnya sangat tinggi.
Nilai kapitalisasi pasar Telkom memang melonjak 800 persen, dari Rp 20,5 triliun saat dicatatkan pertama kali di Bursa Jakarta pada November 1995 menjadi Rp 184,5 triliun pada November 2006.
Direktur Utama Telkom Arwin Rasyid mengatakan penyebabnya adalah peningkatan kinerja perusahaan. Pendapatan Telkom tahun lalu mencapai Rp 41,8 triliun dan laba bersih Rp 8 triliun.
Di sisi lain, Rinaldi mengatakan perusahaan tengah mempertimbangkan kemungkinan membuat utang baru melalui cara pinjaman bank atau penjualan surat utang. Tujuannya untuk membayar surat utang (refinancing) yang akan jatuh tempo tahun depan. "Dalam satu tahun ke depan, total surat utang yang jatuh tempo Rp 3-4 triliun," katanya.
Selain itu, manajemen menilai pencatatan saham Telkom di dua bursa di luar negeri, New York Stock Exchange (Amerika) dan London Stock Exchange (Inggris), masih menguntungkan.
Alasannya, bisa meningkatkan kredibilitas dan reputasi perusahaan. Sebelumnya, pemerintah sebagai pemegang saham Telkom pernah meminta manajemen mengkaji kembali keuntungan pencatatan saham di luar negeri. "Memang jumlah biaya yang dikeluarkan sangat besar," kata Rinaldi.
Yuliawati