Militer Israel Mengaku Pakai Bom Curah


TEMPO Interaktif, Yerusalem: Untuk pertama kalinya sejak perang Israel-Hizbullah di Libanon pecah pada Juli lalu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada Selasa lalu mengakui bahwa mereka telah menembakkan roket-roket yang membawa bom curah (cluster bomb) ke kawasan berpenduduk di Libanon.

Sebuah roket jenis ini akan menyiram suatu kawasan dengan ratusan bom kecil (bomblet). Banyak dari bom ini jatuh ke tanah tapi tak meledak, yang menjadikannya bahaya laten bagi penduduk setempat.

Israel mengakui pemakaian bom jenis itu tapi, "Pemakaian bom curah di kawasan berpenduduk hanya dilakukan ke sasaran militer yang diketahui sebagai tempat menembakkan roket ke arah Israel dan sesudah memperingatkan penduduk sipil setempat," kata juru bicara IDF.

Sebelumnya, tentara Israel mengklaim bahwa pemakaian bom curah dilakukan sesuai dengan hukum internasional. Angkatan Udara Israel bahkan tak memakai bom ini sama sekali.

Tapi, Ahad lalu Brigadir Jenderal Michel Ben-Baruch, perwira yang ditunjuk untuk menyelidiki kasus ini, menemukan bahwa peluncur artileri Destroyer telah menembakkan bom itu berlawanan dengan perintah Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Dan Halutz.

Menurut pengakuan sejumlah perwira artileri, unit-unit yang menembakkan bom curah itu mendapat persetujuan dari wakil komando angkatan darat.

"Kami adalah unit cadangan pertama yang direkrut. Apakah mungkin kepala staf, tak menyebut atasannya, tak sadar soal tugas unit operasi saya?" kata seorang perwira.

Sejak perang berakhir dengan gencatan senjata pada 14 Agustus, menurut perhitungan AFP, 23 orang, termasuk anak-anak, tewas dan 136 orang cedera setelah terinjak atau menyentuh bom ini. Tim penjinak bom Perserikatan Bangsa-Bangsa menemukan 185 bom curah dalam beberapa hari seusai perang.

Yediot Aharonot, harian Yahudi di Israel, mencatat di awal perang, 1.200 bom curah Israel telah ditembakkan ke Libanon, yang setiap bom mengandung ratusan bom kecil. Sekitar 1.200 bom lagi ditembakkan menjelang perang selesai.

Lembaga penyapu ranjau darat yang membantu membersihkan bom itu juga baru mengangkat 45 ribu bom, sedangkan sejuta bom diperkirakan masih tersebar di kawasan bekas perang berkecamuk.

Amnesty International, lembaga hak-hak asasi manusia yang berbasis di London, menilai bom curah yang tertinggal itu menjadi warisan mematikan bagi warga sipil.

Dalam laporan terbarunya mengenai perang itu, Amnesty menyatakan banyak pelanggaran hak asasi manusia di sana, baik dari kubu Israel maupun Hizbullah. Mereka menyerukan sebuah komisi penyelidik yang dipimpin PBB segera melakukan penyelidikan secara lengkap dan adil terhadap perang ini.

Dosa-dosa Israel

Menurut Amnesty International, tentara Israel telah melakukan pelanggaran hak-hak asasi manusia selama perang di Libanon. Berikut ini sejumlah temuan lembaga tersebut:


  • Menyerang ambulans dan mengusir lembaga kemanusiaan internasional.

  • Menghancurkan bangunan dan memblokir kawasan air dan udara Libanon.

  • Mengebom konvoi warga sipil yang mengungsi.

  • Sisa bom curah telah membunuh dan mencederai warga sipil, khususnya anak-anak.

  • Pemerintah Israel cuma menyesal atas jatuhnya korban sipil, tapi tak menjelaskan penyebabnya.



YEDIOT AHARONOT | HAARETZ | AFP | IWANK

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X