Dana Segar Milisi Irak


TEMPO Interaktif, Washington:Sebuah laporan bersifat rahasia milik pemerintah Amerika Serikat Ahad (26/11) kemarin bocor ke tangan media massa. Isinya mengungkapkan kelompok perusuh di Irak memiliki dana taktis US$ 70-200 juta per tahun, melebihi bujet Pentagon di Irak, yang cuma US$ 8 juta sebulan (US$ 96 juta per tahun).

Masih menurut laporan setebal tujuh halaman yang rampung dibuat Juni lalu tersebut, sejumlah dana segar itu didapat dari berbagai aktivitas ilegal. Seperti penyelundupan minyak, penculikan, pemalsuan, dan berbagai tindak kriminal lainnya. Sisanya diperoleh dari sumbangan 10-15 lembaga Islam dan nonpemerintah yang bersimpati.

"Jika akurat," tulis laporan itu, "teroris dan pemberontak akan terus-menerus melancarkan operasinya. Bisa jadi kelebihan dana itu dipakai untuk mendanai berbagai kegiatan teroris di luar Irak." Kendati secara resmi Washington belum menanggapi laporan itu, sumber anonim di sana membenarkan informasi tersebut.

Laporan itu, kata dia, dibuat oleh tim pimpinan Juan Zarate, Deputi Penasihat Keamanan Nasional Kontraterorisme. Tim itu, ujarnya, gabungan Dinas Intelijen Amerika (CIA), Biro Penyelidik Federal (FBI), Dinas Intelijen Pertahanan, Departemen Luar Negeri, Departemen Keuangan, dan United States Central Command.

"Ah, itu hanya tebakan mereka," kata W. Patrick Lang, bekas Kepala Biro Intelijen Timur Tengah di Badan Intelijen Pertahanan Amerika, menyangsikan kesahihan laporan itu. "Itu karena mereka gagal menembus kelompok-kelompok perlawanan di sana." Kata Lang, ada-tidak ada dana, mereka bakal terus melawan.

"Anda harus memahami apa yang para pemberontak itu lakukan di sana," ujarnya. "Apakah mereka melempem karena tak ada dana?" Hal senada dilontarkan Dr Magnus Ranstorp dari Swedish National Defense College. "Laporan itu terlalu berlebihan," ujar pakar studi-studi perlawanan pemberontak di Irak. Benarkah?

Tengok saja rilis Kementerian Perminyakan Irak belum lama ini. Katanya, selama tahun ini saja ada 10-20 persen dari US$ 4-5 miliar impor minyak untuk konsumsi publik diselundupkan ke luar Irak. Itu saja belum cukup. Tahun lalu pemerintah Prancis dan Italia menyetor US$ 30 juta guna menebus warganya yang diculik.

| AP/AFP/NYTIMES/ANDREE PRIYANTO

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X