Topik
Infografis
Pedagang Tetap Bertahan
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Batas akhir pengosongan kios di Blok B, C, D, dan E Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, tak digubris para pedagang. Mereka tetap berdagang sampai hari ini.
Hj. Noning (50), salah seorang pedagang busana muslim di Blok B mengatakan sampai sekarang belum ada kesepakatan antara pengelola dan pedagang. "Jualan disini lebih laku dan ramai," katanya.
Noning bukan sekedar mengecap. Setahun yang lalu dia pernah menyewa kios di Blok A. Hasilnya, "Penghasilan dan pembeli lebih banyak tiga kali lipat di blok B," katanya.
Selain sepi, harga sewa di Blok A jauh lebih mahal. Sewa per tahun di blok A Rp 20 juta. Sedangkan di blok B, C, D, dan E berkisar antara Rp 500 ribu perbulan untuk ukuran kios yang sama yaitu 2X2 meter persegi. "Kami lebih baik berdagang disini dan kalau bisa selamanya," katanya.
Toni (30 tahun), pedagang baju muslim pria mengatakan, Pasar Tanah Abang terutama Blok B, C, D, dan E bukan milik pribadi atau pengembang. "Ini milik rakyat, di mana pedagang pasar tanah abang termasuk di dalamnya," katanya.
Pria berusia 30 tahun itu mengharapkan PD Pasar Jaya tidak bertindak sewenang-wenang dan mengikuti kemauan pedagang. Pedagang juga adalah aset PD Pasar Jaya, pedagang harus terus dilibatkan dalam pencapaian kesepakatan.
Senada dengan itu, Septi (29 tahun) pedagang kain di blok D, menginginkan ganti rugi kios sebesar Rp 125-175 juta per meter. Sedangkan harga yang ditawarkan pengelola sebesar Rp 50-75 juta permeter persegi. "Itu sangat jauh dari keinginan kami," katanya.
Septi juga tetap menginginkan berdagang ditempat yang sekarang. Meskipun hanya memakai kipas angin dan panas, tapi pedagang lebih senang. Dibandingkan berdagang ditempat yang baru dan ber-AC tapi tidak laku.
Dari pantauan Tempo, aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Abang blok B, C, D, dan E berlangsung seperti hari-hari biasa. Seluruh kios diisi oleh pemilik maupun penyewa yang menjajakan dagangannya. Di depan bangunan tersebut, pagar-pagar seng penutup proyek sudah terpasang.
Tulisan dengan cat putih mewarnai seng tersebut. Salah satunya tulisan "Kosongkan segera neh gedung, aliansi ormas" dan tulisan "Gedung ini rusak". Namun pedagang disana tidak menanggapinya dengan serius.
RUDY PRASETYO