Toyota Ekspor Fortuner dan Avanza

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Toyota Astra Manufacturing Indonesia melebarkan sayap pemasaran bagi dua mobil unggulannya, Fortuner dan Avanza, ke pasar luar negeri. Pilihan itu diambil karena potensi pasar yang besar dan anjloknya pasar domestik.

Presiden Direktur Toyota Astra Motor, Johnny Darmawan mengakui bila pilihan ekspor ditenggarai oleh minimnya permintaan dari dalam negeri. "Pasar dalam negeri sedang drop (turun)," ujarnya, Senin (11/12).

Volume penjualan Toyota pada 2006 dibandingkan tahun lalu mengalami penurunan 46 persen. Pada tahun 2005, Toyota berhasil menjual lebih dari 475 ribu unit. Sedangkan untuk tahun 2006, Toyota hanya mampu membukukan penjualan sekitar 225 ribu unit.

Johnny menilai, situasi itu merupakan sinyal untuk melakukan ekspansi pemasaran. Alasannya, kelanggengan suatu bisnis tidaklah bisa bergantung pada kemampuan pasar domestik semata. "Apalagi bagi industri yang kapasitas produksinya besar," kata dia.

Johnny menjelaskan, saat ini pihaknya tengah dihadapkan oleh persoalan strategi pemasaran. Caranya dilakukan dengan melakukan efisiensi proses produksi dan mengkompromikan stuktur perpajakan dengan negera tujuan. "Bagaimana kami bisa berkompetisi, jika kami tidak bisa menawarkan barang berkualitas dengan harga murah," katanya.

Rencananya, Fortuner akan di ekspor ke negara-negara kawasan Timur Tengah. Sedangkan Avanza memperluas jangkauan pemasaran hingga Philipina, Oseania, Timur tengah, Afrika Selatan, Afrika utara, dan Meksiko.

Dengan adanya perluasan pasar tersebut, Johnny optimis total volume ekspor Fortuner dan Avanza akan meningkat pesat. Pada 2007, Toyota menargetkan penjualan Fortuner 10.000 ribu unit dan 22.000 unit Avanza.

Menteri Perindustrian, Fahmi Idris menilai positif rencana ekpor Toyota. "Meski tingkat penjualan selama 2006 cenderung mengalami penurunan, namun di sisi ekspor itu justru mengalami peningkatan. Ini hal yang positif," ujarnya.

Pemerintah, kata dia, akan terus mendorong proses industrialisasi dengan memberikan keringan fiskal maupun non fiskal. Dari sisi fiskal, pemerintah telah menyepakati pembebasan pajak bagi produk komponen dan manufaktur dari Jepang.

RIKY FERDIANTO