Topik
Boyolali Waspadai Antraks
TEMPO Interaktif, Boyolali: Menjelang Hari Raya Kurban, Dinas Peternakan Kabupaten Boyolali mengintensifkan pemantauan terhadap lalu lintas hewan sapi dan kambing di daerahnya. Tidak kurang dari 57 petugas diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan di pasar-pasar hewan sebagai antisipasi agar hewan yang diperjualbelikan untuk keperluan kurban pada Idhul Adha benar-benar sehat. "Pemeriksaan dilakukan dua kali, saat jual beli dan ketika akan dipotong," kata Djoko Waluyo Kepala Dinas Peternakan Boyolali, Senin (11/12).
Pemantauan dan pemeriksaan kesehatan hewan tersebut dilakukan untuk mewaspadai terhadap kemungkinan adanya hewan ternak yang terjangkiti penyakit, khususnya antraks. Boyolali merupakan salah satu daerah yang dinyatakan sebagai endemi penyakit ternak yang bisa menular ke manusia tersebut. Meski penyakit antraks pada hewan sapi di Boyolali ditemukan di awal tahun 1990-an, namun status endemi tersebut belum dicabut. "Kami tidak mau kecolongan, begitu ada hewan ternak yang dari fisiknya sudah tidak sehat harus dikeluarkan dari Boyolali," ujarnya.
Menurut Djoko, di setiap pasar hewan akan diterjunkan sedikitnya tiga petugas. Djoko mengatakan untuk penyakit kuku dan mulut, Boyolali sudah dinyatakan bersih dari penyakit tersebut. Sementara antraks tetap harus diwaspadai. Dia mengatakan untuk penyembelihan hewan ternak kurban di daerah yang dekat tempat pemotongaan hewan, diharapkan dilakukan di tempat tersebut. "Untuk daerah yang tidak ada tempat pemotongan hewan, akan dikirim petugas pemeriksa sebelum hewan disembelih," ujarnya.
Djoko menepis kemungkinan adanya ternak yang lolos dari pemantauan petugasnya. Menurut dia, pemantauan terhadap hewan ternak sebenarnya sudah rutin dilakukan. Hanya menjelang Idhul Adha pemantauan diintensifkan karena jumlah hewan yang diperjualbelikan mengalami peningkatan. Pada hari biasa, setiap harinya ada tiga ribuan ternak sapi keluar masuk Boyolali dan mengalami peningkatan separuh lebih pada saat menjelang idhul adha.
Imron Rosyid





