Lumpuh dan Buta Setelah Dioperasi

TEMPO Interaktif, Medan:Seorang anak berusia 3,5 tahun, Stefana Boru Simatupang, lumpuh setelah menjalani operasi penyakit pembesaran kepala akibat cairan yang berlebihan di otak. Bocah malang itu kini dirawat di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Warga Tarutung, Tapanuli Utara ini hanya bisa terbaring kaku di atas tempat tidur.

Bencana ini bermula dari operasi yang dilakukan oleh Iskandar Djafardi, ahli bedah syaraf Rumah Sakit Pirngadi, Medan pada September tahun lalu. Ukuran kepala Boru pun kembali normal. Setelah kembali ke rumah, bekas luka operasi bernanah. "Karena tak ada uang, kami pakai obat tradisional," kata Hartati, ibu Stefana di Medan kemarin.

Karena kondisinya terus memburuk, Stefana dioperasi kembali oleh Iskandar Djafardi pada Agustus 2006. Setelah menjalani operasi kedua ini, kata Hartati, anaknya justru kejang-kejang dan sesak nafas. Selama satu bulan bocah malang ini dirawat di ruang ICU karena kondisinya terus memburuk.

Puncaknya dua kaki Stefana lumpuh dan dia mengalami kebutaan. "Anak saya korban malpraktek," kata Hartati. Dia merasa yakin pihak rumah sakit lalai saat menangani anaknya. Meski demikian, dia tidak akan menggugat rumah sakit kecuali sekadar minta penjelasan kasus yang menimpa anaknya.

Menanggapi kasus ini, juru bicara Rumah Sakit Pirngadi Medan, Hanas Hasibuan mengatakan, dokter Iskandar Djafardi sudah tidak bekerja di rumah sakit ini. Dia enggan memberikan komentar tentang dugaan malpraktek yang dilakuakn Iskandar.

Ahli bedah syaraf Rumah Sakit Pirngadi Medan yang menangani Stefana sekarang, Rezeki Sembiring juga enggan menjelaskan penyebab kelumpuhan dan kebutaan warga Tarutung tersebut. Dia hanya memberikan penjelasan soal infeksi Stefana. "Infeksi akibat radang paru dan radang ventriculitis dan encefalitis," katanya.

Orangtua Stefana hanya bisa pasrah. Ayah Stefana, Harry Simatupang hanya bekerja sebagai penajag toko elektronik dengan penghasilan pas-pasan. Dia berharap ada dermawan yang mau bersedia membantu menebus obat-obatan untuk anaknya.

Sahat Simatupang