Tanah di Gunungkidul Merekah Sepanjang 30 Meter

TEMPO Interaktif, Gunungkidul:Warga Ngendon, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, mengungsi karena tanah permukimannya merekah sepanjang 30 meter dengan kedalaman hingga enam meter.

Penduduk desa yang berjumlah sekitar 76 jiwa itu khawatir bakal terjadi longsor. Kepala Dusun Mundon, Desa Tancep, Purwanto, meminta warganya menjauh dari bukit yang merekah. "Meski belum ada tempat mengungsi, warga harus meninggalkan rumahnya," kata Purwanto kemarin.

Menurutnya, panjang rekahan tanah terus berambah setiap harinya. Gundungan bukit pada ketinggian 200 meter, kata dia, tampak mengalami penurunan seperti amblas. "yang penting, ibu-ibu dan anak-anak diungsikan lebih dulu," ujarnya.

Areal rekahan, katanya, berada di Bukit Putih yang membentang sekitar 1 kilometer. Kondisi ini berlansung pascagempa bumi 27 Mei lalu hingga sekarang. Setiap ada rekahan selalu diiringi suara gemuruh seperti tanah longsor. "Warga sangat terancam," kata Purwanto.

Ngatisah, 46 tahun, warga Mundon yang mengungsi ke rumah Purwanto, mengatakan suara gemuruh itu berasal dari arah bukit. "Suara itu terdengar saat hujan gerimis," katanya.

Tim Geologi Universitas Gadjah Mada mendeteksi penyebab rekahan bukit karena tanah di wilayah Kecamatan Ngawen umumnya dalam kondisi labil. "Bahkan, sejumlah bukit di Gunungkidul memang tidak stabil sejak gempa 27 Mei lalu," ujar Akmaluddin, tim peneliti dari universitas itu.

Dia menambahkan, pascagemba banyak fenomena alam yang muncul, salah satunya merekahnya tanah bukit. "Kami masih mengkaji penyebab utama fenomena alam tersebut," ujar Akmaluddin.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Klaten mencoret sebanyak 14 ribu calon penerima dana perbaikan rumah korban gempa pada 27 Mei lalu. Rumah mereka itu dinilai masih layak huni.

"Pencoretan dilakukan secara bertahap, sesuai hasil verifikasi," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Klaten, Bambang Agustiono, kemarin.
Dari 93.492 rumah yang diusulkan mendapatkan dana, pemerintah baru mencairkan separuhnya.

Bambang mengatakan, dana perbaikan rumah tahap pertama mencapai Rp 411 miliar. "Dana rekonstruksi rumah tahap kedua mencapai Rp 550 miliar. Penyalurannya menunggu hasil validasi data," ujarya.

Sekretaris Satuan Koordinasi Pelaksana Penanganan Bencana Kabupaten Klaten, Eko Medisukasto, menagatakan pencairan bantuan tergolong lamban. "Data korban gempa selalu menjadi masalah. Setiap hari ada saja warga yang mengajukan data susulan," katanya.

Syaiful Amin | Imron Rosyid