Indonesia Contoh Demokratisasi Masyarakat Muslim
TEMPO Interaktif, Jakarta:Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengatakan Indonesia adalah contoh negara muslim yang demokratis. “Saya selalu menyebut Indonesia jika ada yang bertanya negara muslim mana yang demokratis,” kata Anwar saat berpidato dalam kuliah terbuka di Universitas Al Azhar Indonesia, kemarin.
Bahkan jika ditinjau dari sudut sejarah, menurut Anwar, Indonesia sebagai negara muslim terbesar telah memulai demokrasinya pada 1955.
Demokratisasi di Indonesia, terindikasi dilaksanakaannya pemilihan umum yang berjalan lancar dan bebas. “Sejauh pengetahuan saya pemilihan di Indonesia lebih baik daripada di Malaysia,” ujarnya.
Anwar membandingkan dengan negeranya, di Malaysia pemilihan seringkali diikuti oleh pemilih hantu. “Pemilih yang sebenarnya telah meninggal tapi namanya tercantum kembali dan ikut memilih,” ucap Anwar yang disambut dengan tawa peserta acara.
Indonesia juga patut ditiru dalam hal kebebasan berpendapat. “Di Malaysia orang bebas berbicara tapi tidak bebas setelah berbicara, sedangkan di Indonesia orang bebas sebelum dan seudah berbicara,” kata mantan Menteri Keungangan Malaysia sembilan kali ini.
Apa yang terjadi di Indoensia, menurut Anwar, bisa dijadikan jawaban bagi berbagai pernyataan dunia barat yang memojokkan Islam. Dalam kerangka pikir barat, Islam adalah agama yang tidak demokratis, otoriter, memiliki pemerintahan yang kotor dan korup.
“Tidak semua pikiran itu benar, di hadapan Al Gore, mantan wakil presiden Amerika Serikat, saya katakan bahwa negara muslim terbesar di dunia menerima dan menjalankan demokrasi,” ucap Anwar. Dia menaruh harapan besar bagi kemajuan Indonesia dan umat muslimnya.
Sedangkan mengenai beberapa hal yang memang masih menjadi borok di Indonesia, misalnya korupsi. Anwar menyarankan masyarakat dan pemerintah mengembangkan budaya amanah. “Seharusnya jabatan dianggap sebagai amanah, sehingga dalam menjalankannya selalu mawas diri dan tidak berkhianat. Korupsi itu mengkhianati rakyat,” kata Anwar.
Titis Setianingtyas



