Merapi Kembali Semburkan Awan Panas
TEMPO Interaktif, Yogyakarta:
Gunung Merapi yang ada di perbatasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta kembali menyemburkan awan panas atau yang biasa disebuta "wedhus gembel" oleh masyarakat lokal. Sejak siang hingga pukul 17.35 WIB, Jumat (22/12), Merapi menyemburkan sedikitnya tujuh kali awan panas dari kubahnya.
Awan panas itu belum termasuk awan panas sekunder berupa letupan-letupan dari material vulkanik yang ada di bawah puncak Merapi. "Luncuran awan panas terbesar terjadi pada pukul 17.35 yang mencapai jarak sejauh 4 kilometer ke arah sungai Gendol," kata pengamat Merapi di Pos Kaliurang, Panut, kepada Tempo. "Awan panas ini terjadi akibat hujan deras yang ada di puncak yang menyebabkan kubah Merapi mengeluarkan magma dalam bentuk awan panas."
Selain ke arah sungai Gendol, dua luncuran lain menuju hulu sungai Krasak dengan jarak sejauh 2,5 kilometer. Luncuran awan panas itu, kata Panut, juga disertai luncuran lava pijar yang berasal dari kubah Merapi.
Sejak Kamis siang kawasan puncak Merapi diguyur hujan dengan curah yang cukup tinggi. Tingginya curah hujan itu memicu aktivitas kubah Merapi yang hingga saat ini terus memproses pembentukan magma baru.
Kepala Seksi Gunung Merapi pada Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subandriyo, menambahkan, meski Merapi kembali mengeluarkan awan panas, Badan Vulkanologi tetap mempertahankan Merapi dalam status waspada. Sebab, kata dia, munculnya awan panas bukan dipicu oleh faktor internal aktivitas Merapi.
Awan panas yang terjadi kali ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu tingginya curah hujan. Hingga saat ini, proses erupsi Merapi memang masih berlangsung tetapi sudah sangat menurun jika dibandingkan dengan periode Mei atau Juni lalu. Sehingga ancaman primer dari Merapi relatif kecil. "Yang perlu diwaspadai saat ini justru ancaman sekunder berupa banjir lahar dingin," kata Subandriyo.
Menurut Subandriyo, selain bisa memicu terjadinya awan panas dari kubah Merapi, tingginya curah hujan juga bisa menyebabkan terjadinya awan panas sekunder. Tumpukan material vulkanik pasca-erupsi Merapi Juni lalu, kata dia, hingga saat ini banyak menumpuk di hulu-hulu sungai dan sekitar puncak dengan ketebalan ada yang mencapai 15 meter.
Pada ketebalan dua meter dari permukaan, tumpukan material itu panasnya masih mencapai di atas 200 derajat celcius. Jika tunmpukan material tersebut tersiram hujan, kata dia, akan menimbulkan reaksi berupa letupan-letupan yang disusul terjadinya awan panas sekunder dan bau belerang.Syaiful amin














