Mantan Karyawan PT Dirgantara Bertemu Direksi


TEMPO Interaktif, Jakarta:Perwakilan mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia hari ini bertemu dengan Direksi PT Dirgantara Indonesia di kantor Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Mereka menuntut direksi segera mencairkan sisa pembayaran pensiun karyawan yang besarnya Rp 40 miliar.

Berkaitan dengan rencana itu, kemarin sekitar 300 mantan karyawan PT Dirgantara bertahan di perkemahan Ragunan. Mereka tiba di Jakarta pada 29 Desember lalu setelah melakukan long march dari Bandung. "Ada lima perwakilan yang akan bertemu dengan direksi," kata Ketua Serikat Pekerja Forum Komunikasi Karyawan PT Dirgantara Indonesia Arif Minardi.

Menurut Sidharta, juru bicara mantan karyawan, mereka akan tetap bertahan di Ragunan sampai pemerintah mencairkan dana pensiun itu. "Semua prosedur pengeluaran dana sudah ditempuh pemerintah, tapi kenapa kami belum juga menerima dana itu," katanya.

Sebelumnya, pemerintah pernah menjanjikan akan membayar dana itu setelah keluarnya peraturan pemerintah tentang penyertaan modal negara. Namun, janji itu tak kunjung dipenuhi. Padahal peraturan pemerintah tadi sudah ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Selama di Ragunan, mantan karyawan PT Dirgantara ini tinggal di pendapa perkemahan dan tenda-tenda yang mereka sewa. "Selama ini kami makan sendiri-sendiri," kata Arif. Namun, Ahad lalu, suasana perkemahan agak berubah. "Kami buat dapur umum. Banyak warga yang menyumbang daging kurban."

Dengan limpahan logistik itu, mantan karyawan ini bertambah semangat untuk memperjuangkan hak mereka. Bahkan mereka berencana menggelar aksi di depan Istana Negara jika pembicaraan dengan direksi berjalan alot. "Pokoknya kalau tidak segera cair, kami langsung long march ke Istana Presiden," kata Sidharta lagi. l Reh Atemalem Susanti | Sandy Indra Pratama

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X