Bush Minta Kesempatan Atasi Irak


Grafis Terkait

TEMPO Interaktif, Washington: Presiden Amerika Serikat George W. Bush meminta para legislator dan rakyat Amerika bersabar dan memberi kesempatan atas strategi Iraknya yang tak populer itu.

"Negara kita mencoba strategi baru di Irak, dan saya minta Anda memberinya kesempatan untuk dilakukan," kata Bush dalam pidato kenegaraan tahunan ketujuh di hadapan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan senator di Washington kemarin (Selasa waktu setempat).

Dia menyatakan penambahan 21.500 tentara lagi diperlukan karena kekalahan Amerika di sana dapat memicu "perang akbar" yang dapat menelan seluruh Timur Tengah. "Bagi Amerika, ini adalah skenario mengerikan. Bagi musuh, ini adalah sasaran," ujar Bush.

"Jika pasukan Amerika mundur sebelum Bagdad aman, pemerintah Irak akan dijalankan oleh para ekstremis di semua bidang," katanya.

"Kita dapat memperkirakan pecahnya perang akbar antara ekstremis Syiah yang didukung Iran dan ekstremis Sunni yang dibantu Al-Qaidah serta para pendukung rezim lama," kata Bush. "Dampak buruk kekerasan dapat meluber ke seluruh negeri dan pada saatnya seluruh kawasan itu dapat terseret ke dalam konflik."

Dalam pidatonya, Bush juga menyampaikan beberapa kebijakan domestik. Menjawab kritik dunia yang menuduhnya mengabaikan perubahan iklim, misalnya, Bush menyerukan pengurangan 20 persen pemakaian bensin pada 2017.

Dia juga menyerukan pelipatgandaan cadangan minyak darurat Amerika pada 2027. Bush juga kembali mendorong rencana reformasi imigrasi, yang menekankan program pekerja tamu, sikap yang lebih banyak menarik dukungan dari kalangan Demokrat ketimbang partainya sendiri, Republik.

Bush memulai pidatonya ini 12 jam sebelum Komisi Hubungan Luar Negeri Senat memulai menggarap resolusi dwipartai Republik dan Demokrat, yang menentang rencana Bush mengirim pasukan tambahan ke Irak.

Partai Demokrat tak terbuai dengan pidato Bush dan tetap menuntut penarikan pasukan Amerika dari Irak. Dalam pidato tanggapan dari Demokrat, senator Jim Webb dari Virginia mengatakan bahwa Bush "telah membawa kita ke dalam perang ini secara sembrono".

"Dengan menghargai kebijakan luar negeri, negara ini telah dengan sabar menanggung perang yang salah urus itu selama hampir empat tahun," kata Senator, yang putranya menjadi marinir dan dikirim ke Irak, itu.

Amerika, kata dia, saat ini telah tersandera oleh kekacauan yang dapat diperkirakan dan telah diperkirakan menyertainya. "Mayoritas bangsa ini tak lagi mendukung cara perang ini diperjuangkan, tak pula didukung mayoritas militer kita," ujar Webb.

Letnan Jenderal David Petraeus, perwira yang bertugas menyusun rencana baru Bush di Irak, sebelumnya telah berterus terang di hadapan komisi Senat soal rencana penambahan pasukan itu.

"Situasi di Irak kini mengerikan. Taruhannya tinggi. Tak ada pilihan yang mudah. Di masa mendatang akan sangat sukar. Tapi sukar bukan berarti tanpa harapan," katanya.

Petraeus juga mengatakan bahwa saking mengerikannya keadaan di Irak kini, ia tak menjamin rencana Bush akan berhasil.

Para politikus Irak dari Sunni ataupun Syiah menilai tak ada yang baru dari pidato Bush ini. "Bush belum datang dengan sesuatu yang baru dan pidatonya tak memberi harapan nyata bagi warga Irak kebanyakan," ucap legislator Sunni, Hussein al-Falluji.

"Bush mengatakan bahwa mengirim anggota pasukan lebih banyak akan menyelesaikan persoalan keamanan, tapi saya pikir itu tak akan mengekang kekerasan untuk waktu yang lama karena masalahnya bukan hanya militer, ini lebih pada soal politik dan campur tangan asing," kata Al-Falluji.

Adapun Falah Hassan, legislator dari kelompok ulama Syiah, Muqtada al-Sadr, juga menuntut solusi politik. "Pidato Bush masih memuat logika kekuasaan dan penghancuran ketimbang logika dialog dan solusi politik," ujarnya.

"Saya percaya bahwa pemerintah Amerika seharusnya mengadopsi pidato perdamaian ketimbang pidato para tentara," kata Hassan.

l AP | AFP | THE TIMES | BBC | KURNIAWAN

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X